Senin, 16 Februari 2015

Kereta Menuju Antah Berantah di Siberia


Stasiun Kereta Severobaikalsk (Getty Images)

Dibangun di sebuah daratan-tak-bersahabat dengan musim dingin yang ekstrim, jalur Baikal-Amur Mainline sepanjang 3.140 kilometer dengan hebat membuka jalan di beberapa daerah Rusia yang kurang diakses.

Oleh: Anna Kaminski

Aku terbangun saat kereta yang bergerak lambat dan membuat ngantuk, tiba-tiba tersendat dengan kasar. Aku sedang berada di sebuah daerah entah apa namanya, di Baikal-Amur Mainline (BAM), jalur kereta api sepanjang 3.140 kilometer yang berada di Siberia bagian utara. Aku sedang menuju barat, pulang menuju rumah.

Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, dan para penumpang lain di platzkartny, alias kereta kelas tiga, juga mulai bangun. Ada dua penumpang baru di kompartemen tidur, yang naik di tengah malam, dari sebuah tempat di barat Komsomolsk-on-Amur. Andrei, yang mirip George Clooney ala Rusia, baru tuntas menenggak sekaleng bir Baltica ukuran satu liter, dan ia sedang menuju utara, di luar kota Neryungri, untuk bekerja di sebuah tambang.

Yura kembali ke Tynda, kampung halamannya, karena bekas tempat kerjanya --sebuah tambang di dekat Khabarovsk menunggak gajinya selama empat bulan. "Beberapa orang teman menghubungiku, katanya ada pekerjaan di kampung," katanya.

BAM berawal pada dekade 1930-an, sebagai proyek  besar nan ambisius, yang akan membuka jalan di areal-areal Rusia yang kurang terjamah, memudahkan akses ke tambang-tambang mineral di Siberia, sekaligus mendukung migrasi ke daerah itu.

Berada sejajar dengan jalur rel Trans Siberian --dari persimpangan Tayshet di barat, hingga Sovetskaya Gavan di pantai Pasifik-- salah satu tujuan BAM adalah mengalihkan lalu lintas kereta Trans Siberian yang terlampau sibuk. Tapi meskipun menelan biaya miliaran rubel --dan konstruksinya belum jua rampung hingga 1991-- jalur Baikal-Amur Mainline masih kurang terpakai.

Tidak seperti kota-kota sibuk di jalur Trans-Siberian, yang mengalami perubahan drastis selama beberapa tahun terakhir karena meningkatnya lalu lintas kereta dan datangnya para pelancong asing, kota-kota di sepanjang jalur BAM masih merupakan bagian dari daerah yang terlupakan. Arsitektur warisan era Soviet pun masih tak berubah.

Jalur BAM hanya berjarak 400 kilometer di utara jalur Trans-Siberian, tapi perbedaannya begitu mencolok: penumpang BAM cenderung didominasi oleh orang lokal dan miskin --dan dengan pengecualian di daerah Severobaikalsk (tempat naiknya penumpang dari Danau Baikal), sangat sedikit orang asing yang menaiki kereta BAM.

"Kamu sudah pernah coba makan kaviar?" tanya Valera, seorang pria blonde dengan bekas luka di pipi. Dia sedang menuju tempat kerjanya, tambang emas di utara Tynda, dan saudara perempuannya membekalinya satu kaleng kaviar. Kami memakan kaviar itu dengan sendok besar, lalu membanjurnya dengan teh hitam yang panas dan legit.

Tanya, seorang perempuan berumur 21 tahun dari desa Fevralskoye, yang terletak di antara Komsomolsk-on-Amur dan Tynda, menolak halus Andrei yang sedang mabuk dan sibuk menggodanya.

Semua orang ingin tahu bagaimana kehidupan di kampung halamanku, Britania Raya. Berapa biaya sewa apartemen satu kamar? Berapa harga sekerat roti? Bagaimana cuacanya? Mereka tertawa sewaktu aku bilang kalau, selama berpuluh tahun, cuaca paling dingin di Britania Raya adalah -12 celcius. Yura bilang kalau sedang musim dingin, suhu di Tynda mencapai -47 celcius.

Saat Yura sekeluarga pindah ke Khabarvosk, di mana cuacanya tak pernah lebih dari minum -30 celcius, anak lelakinya bertanya, "Ayah, kapan musim dingin datang?"

Di luar, pemandangan hutan yang rapat seperti tidak akan berakhir. Kami berhenti di kampung kecil bernama Etryken, salah satu perkampungan yang dibangun untuk melayani lalu lalang kereta barang. Tapi keinginan itu tak pernah terwujud, meski jalur ini begitu kaya akan potensi tambang. Sejumlah proyek pertambangan yang direncanakan pada masa senjakala Uni Soviet, tak pernah terwujud. Hal itu mengubah perkampungan menjadi kota hantu, karena generasi muda di sana bermigrasi ke kota-kota lain untuk mencari kerja.

Menjelang malam, Aku ngobrol dengan Nikita, yang berasal dari Khabarovsk. Meski berhasil lulus kuliah, dia tetap mencari kerja di tambang guna menghidupi keluarganya. "Keinginanku cuma ingin hidup dan kerja dengan bermartabat, menghasilkan uang yang cukup untuk membesarkan anakku, sesekali pergi berlibur, dan hidup tenang karena pekerjaanku stabil," ujarnya. Dia menambahkan kalau dia lelah melihat korupsi, birokrasi, ketidaksopanan, dan kurangnya patriotisme. "Semua orang mengambil untuk diri mereka sendiri. Rusia terbagi menjadi 'golongan-golongan', dan jika kamu bukan bagian dari mereka, maka sulit untuk mendapat apapun."

Keesokan paginya, kami turun di Tynda, ibukota tidak resmi BAM, sekitar 7.000 kilometer di timur Moskow. Stasiunnya diselimuti banyak poster tua nan pudar berukuran besar, yang merayakan ulang tahun ke 35 stasiun itu, pada tahun 2009 silam: "Jalan ini dibangun dengan cinta." Jalur kereta ini adalah kejayaan umat manusia atas alam, dibangun di daratan yang tak bersahabat, dingin bukan kepalang kala musim dingin datang, dan langit musim panas selalu dipenuhi komplotan nyamuk.

Tapi para anggota idealis Komsomol (Liga Komunis Muda) yang dianggap berjasa menyelesaikan BAM, sebenarnya hanya tinggal menyelesaikan bagian akhir saja; sebelumnya, di antara tahun 1930-an hingga 1950-an, jalur kereta api ini dibangun dengan darah dan air mata setidaknya setengah juta orang, termasuk para tahanan di gulag dan tahanan perang dari Jepang.

Meski telah berusaha keras, aku tak bisa menemukan daya tarik utama di Tynda: patung pekerja BAM, digambarkan sebagai seorang lelaki berotot yang memegang godam. Ini adalah monumen yang paling terkenal di BAM, sebagai simbol usaha keras membangun jalur kereta api dan seharusnya juga menjadi contoh spektakuler tentang gagrak realisme sosial. Aku berjalan di sepanjang jalan utama, melewati patung palu arit, Hotel Yunost –tempat tinggal penulis perjalanan Dervla Murphy saat menyelesaikan buku Through Siberia By Accident-- beberapa blok apartemen identikit, dan beberapa gerai shashlik (daging tusuk, mirip kebab). Malah, secara tak sengaja aku mendapati Museum Sejarah BAM, yang terletak di samping replika barak para pekerja BAM di masa pembangunan jalur kereta api.

Anna Nikolayevna, seorang kurator paruh baya, dengan bangga mengajakku berkeliling dan menunjukkan koleksi kebanggaan museum, termasuk artefak Evenki (sebutan untuk penggembala rusa kutub yang berpakaian mirip shaman, dan mengenakan sepatu berbulu); telepon era 1980-an yang digunakan sebagai alat komunikasi antar kota BAM; dan foto para pekerja rel yang sudah mulai buram. Dengan was-was, ia berbisik, memberi tahu kalau patung pekerja BAM sudah dipindah di tengah malam, beberapa tahun lalu. Tidak ada yang tahu patung itu dipindah ke mana.

Saat kembali naik kereta menuju Severobaikalsk, kontur bumi menjelma pegunungan, dan kami melewati hutan lebat yang dialiri  sungai-sungai lebar dan gletser. Halimun turun perlahan menutupi lereng pegunungan yang terjal. Tetanggaku kali ini adalah Galya, pensiunan induk semang yang pindah dari Pegunungan Urals ke Siberia di 1970-an untuk bekerja sebagai relawan liga komunis muda di BAM, tergoda oleh bayaran tiga kali lipat; lalu ada Valera dan Nastya, pasangan pramuwisma kereta api yang sedang cuti. Galya memberitahuku kalau kehidupan di era komunis "seperti di surga", dan dia bisa menabung guna membeli apartemen untuk dia dan anak-anaknya. Dia memberiku sosis dan tomat yang ditanam di lahannya sendiri, menolak menerima apapun sebagai timbal baliknya.

Valera balik dari tongkrongannya di gerbong lain, mabuk dan bersimbah darah. Dia minum terlalu banyak vodka, kehilangan telepon selulernya dan menuduh teman minumnya mencuri ponselnya. "Kasian Nastya, dia pasti menderita punya suami seperti itu," kataku. Galya tak setuju: "Mereka cocok satu sama lain; Nastya meninggalkan suaminya untuk bersama dengannya." Lalu, dengan gaya orang tua Rusia yang sok akrab berlebihan, Galya menceramahiku kalau perempuan seumurku seharusnya sudah punya anak. Aku lega saat sampai di Severobaikalsk dan berpisah dengannya.

Jika Galya menjadi perlambang keteraturan dan kekakuan ala Soviet kuno, lantas Anya, yang juga turun di Severobaikalsk, adalah yang terbaik dari generasi baru Rusia. Mengabdikan diri pada konservasi, dia adalah anggota Great Baikal Trail, sebuah lembaga nirlaba yang punya visi mengenalkan ekowisata di area Baikal. Setiap musim panas, relawan lokal dan luar negeri berkumpul di Danau Baikal, danau tertua, terdalam, dan terbesar di dunia, untuk membuat dan meletakkan papan penunjuk arah, juga memperbaiki jalur pendakian yang menyusuri danau. Jennifer dan Joy, sukarelawan Amerika yang menemani Anya, berasal dari area dekat Danau Tahoe di California, merupakan bagian dari pertukaran pelajar antara Rusia dan Amerika Serikat, yang belajar tentang konservasi dan ekologi.

Sebelum kembali ke BAM dan menuju Rusia Barat, aku mengucapkan salam perpisahan ke Danau Baikal. Malam itu dingin dan hujan sedang turun, dan kami berempat berendam di pemandian air panas Goudzhekit --firdaus bagi para pelancong yang belum mandi selama berbulan-bulan. Aku mengapung dengan ringisan bodoh di wajahku. "Di musim dingin, saat suhu mencapai minus 40 celcius, rasanya bahkan jauh lebih baik," kata Anya sembari tersenyum. []

Post-scriptum: diterjemahkan dengan kasual dari artikel "A Train to Nowhere in Siberia" oleh Anna Kaminski. Artikel aslinya dimuat di situs BBC, bisa dibaca di: http://www.bbc.com/travel/story/20140113-russias-rails-less-travelled

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar