Rabu, 24 September 2014

Setelah Yogyakarta...

Sejak Februari, saya terpaksa melambaikan tangan perpisahan dengan Yogyakarta. Kota yang saya tinggali selama kurang lebih 3 tahun itu memberikan banyak kenangan pahit dan manis. Saya bakal rindu kota yang selalu menyenangkan kala malam sudah menjemput itu. Angkringan. Konser keren gratis. Warung kopinya. Bakmi Jawa plus uritan. Hingga kawan-kawan baik yang masih banyak di sana.

Perpindahan saya jadi terasa lebih pahit karena yang menunggu adalah kota yang pernah saya benci. Teramat sangat. Jakarta.

Saya masih ingat kenangan tahun 2007 ketika pertama kali datang ke Jakarta. Naik kopaja yang masuk dalam gang sempit. Memencet klakson keras-keras supaya orang tak tergencet. Demi Toutatis!

Kota Jakarta, bagi saya, tak menjanjikan apapun kecuali kesengsaraan. Kota sonder romantisme. Menihilkan kemanusiaan. Macet panjang. Banjir. Kriminalitas. Semua yang kau butuhkan untuk latar cerita dystopian, bumi menjelang kiamat, ada di Jakarta.

Kenapa saya harus meninggalkan kota Yogyakarta yang gemah ripah loh jinawi, untuk pergi ke Jakarta yang bengis dan mengerikan?

Ceritanya saya diterima kerja di sebuah majalah baru, The Geo Times. Dua orang punggawanya adalah jurnalis senior yang saya kagumi: Farid Gaban dan Rusdi Mathari.

Mas Farid, saya mengenal namanya waktu ia berkeliling Indonesia dengan menggunakan sepeda motor. Setelahnya, saya asyik membaca banyak artikel dan esai buatannya. Buku Dor! Sarajevo yang ia tulis saat mengunjungi Sarajevo kala perang saudara, adalah karya jurnalistik yang mengagumkan. Masih relevan, penting, dan enak dibaca hingga sekarang.

Sedangkan Cak Rusdi, adalah wartawan senior yang sangat dikagumi karena keteguhannya memegang prinsip jurnalimse. "Jurnalistik, wartawan, itu bukan sekedar pekerjaan, Nuran. Itu seharusnya sudah mengalir dalam nadi," katanya pada saya suatu ketika. Akan sangat panjang kalau saya bercerita tentang pria gondrong asal Situbondo ini.

The Geo Times menjanjikan pada saya sebuah kesempatan belajar. Setahun terakhir saya di Yogyakarta, saya nyantri pada mas Puthut EA. Mendapatkan banyak pelajaran darinya. Itu mungkin salah satu fase hidup paling berharga dalam hidup saya. Dan saat ada kesempatan belajar yang lain, Mas Puthut menyilahkan saya untuk mengejarnya. Ia bahkan memberikan referensi soal saya pada Cak Rusdi.

"Tapi aku minta satu hal, Ran. Selesaikan kuliahmu, jangan ditinggal," kata Mas Puthut di malam saya pamitan untuk pergi ke Jakarta.

Saya mengangguk yakin.

***

Setelah menikah dengan Rani di bulan April, kami berdua tinggal di rusun Berlian Tebet. Ini pilihan yang masuk akal. Baik dari jarak tempuh ke tempat kerja, hingga harga.

Rani kerja di daerah Kuningan. Sedang kantor saya di Menteng. Secara geografis, Tebet adalah daerah yang paling dekat dengan kantor kami. Kalau ke Kuningan, Rani hanya perlu jalan sebentar lalu naik angkot 44. Cuma butuh 5 menit perjalanan saja. Sedangkan saya naik motor ke kantor cuma butuh waktu 10 hingga 15 menit.

Sayangnya, Tebet adalah daerah ramai. Termasuk daerah berkumpulnya anak muda. Ada banyak distro. Restoran. Kafe. Karena itu harga sewa bangunan mahal. Kami berdua sempat mendegut ludah kala melihat sebuah rumah petak kecil, suram, dan sedikit menyeramkan, disewakan dengan harga 29 juta/ tahun. Edan.

Kos juga bukan pilihan yang bijak. Kami ingin punya dapur. Jadi bisa masak sendiri agar lebih hemat. Setelah mencari-cari, akhirnya pilihan kami jatuh di rusun. Harganya hampir separuh kontrakan rumah petakan. 

Kami betah di rusun ini. Apalagi satu komplek dengan masjid. Jadi saya bisa lebih rajin beribadah. Prettt! Siksaannya cuma waktu air galon habis dan kami belum tahu jasa antar galon. Jadi saya harus naik tiga lantai sambil bawa galon yang beratnya biadab itu. Tapi sekarang sudah ada tukang antar galon. Jadi saya terhindar dari siksaan maha berat itu.

Tikus sih pasti ada. Besar-besar pula. Ukuran yang bisa membuat kucing pontang panting ketakutan. Satu dua kali ada tikus masuk ke rumah. Entah dari mana mereka masuk. Padahal semua pintu sudah ditutup rapat.

"Aku kemarin nangkap tikus. Gede banget. Seukuran telapak tangan," kata Rani suatu ketika, waktu saya sedang ada di Riau.

Karena sudah biasa lihat tikus, kami sering iseng memberi nama untuk hewan imut ini. Mulai Joni, Miki, sampai Eksel (versi Betawi dari Axl). Selo tenan cuk.

Dan sampai sekarang kami betah-betah saja tinggal di rusun Tebet. Banyak orang menyarankan kami untuk beli rumah di daerah Depok atau Bogor. Kami menggelengkan kepala dulu. Kami punya pertimbangan sendiri soal tempat tinggal.

Alasan pertama: beli rumah itu tak gampang. Kami masih harus mengumpulkan uang dulu untuk uang muka. Padahal sebagai pasangan baru, kami masih tertatih soal finansial. Membeli rumah jelas ada dalam bayangan kami. Itu wajib. Tapi tak sekarang.

Selain alasan itu, alasan utama kami menolak tinggal di Depok atau Bogor adalah: kami tak mau tua di jalan.

Depok ke Jakarta Selatan, ke kantor kami, bisa makan waktu 1 hingga 3 jam. Itu kalau naik bis di jam kantor. Kalau naik motor 1 jam. Naik kereta bisa lebih singkat, tapi dengan resiko tergencet dan jadi sarden dalam kaleng tua bernama KRL.

Belum lagi faktor kami masih suka nongkrong dengan kawan sepulang kantor. Kebetulan kawan-kawan kami kebanyakan berdomisili di Jakarta Selatan. Jadi kami sering janjian. Kadang kami ngopi sampai pagi. Seperti waktu saya ngopi bareng alumnus UKPKM Tegalboto sampai jam 1 pagi kapan hari. Kalau tinggal di Depok mana bisa janjian seperti itu?

Berdasarkan pertimbangan itu, kami akhirnya memutuskan tinggal dulu di Tebet sementara waktu. Ini tempat yang ideal.

***

Kantor kami berdua adalah kantor anomali. Apalagi kantor Rani.

Semua klien perusahaan teknologi informasi itu berasal dari Amerika Serikat. Saban hari mereka confrence call. Itu artinya, sebagai perusahaan penyedia jasa, kantor itu harus tunduk pada jam klien mereka yang selisih 11 jam.

Jadi Rani masuknya siang, malah sore. Pulangnya malam. Kalau sedang sibuk dan lembur, pulangnya kadang dini hari. Rekor Rani pulang adalah kala adzan Subuh memecah sunyi langit Tebet.

Saya sih tak keberatan sama sekali dengan jam kerja Rani. Santai saja. Malah kadang saya yang jemput dia di kantornya. Soalnya kantor saya juga selo. Saya biasa masuk siang, sekitar jam 11 atau jam 12. Walau mas Farid bertitah agar pekerjanya masuk kantor jam 10 pagi. Tapi bangun pagi rasanya sulit benar. Jadi saya masih masuk jam 11, atau malah jam 12 siang. Kantor saya juga tak ada masalah dengan jam kerja yang fleksibel itu. Asal pekerjaan selesai lah.

Tapi sejak sebulan ini, kantor Rani berubah. Semua karyawan, tanpa terkecuali, diwajibkan masuk pagi. Jam 9 harus ada di kantor. Pulangnya pun normal. Jam 7 malam sudah bisa pulang. Wah itu bencana. Sebab Rani harus melintasi jalan Jakarta yang sedang kejam-kejamnya. Itu siksa neraka dunia.

Sedang saya? Masih santai. Saat saya berangkat jam 11 siang, jalanan sudah sepi. Kala pulang, sekitar jam 9 atau 10 malam, jalan juga sudah lengang. Walau kadang masih ramai karena ada tawuran di sekitar Pasar Rumput atau Manggarai. Hehehe.

Tawuran di dua daerah itu sudah seperti hobi saja. Minggu lalu, tiga hari berturut-turut pecah tawuran. Sekali tawuran bisa tiga jam.

"Sampai bawa pick up segala Bang, kayak mau nonton bola aja," kata seorang tukang ojek di sekitar Pasar Rumput.

***

Orang zaman dulu selalu bilang: jangan berlebihan dalam membenci sesuatu. 

Saya terkena tulah akibat kebencian saya pada Jakarta. Saya 'dipaksa' untuk tinggal di kota yang pernah saya benci penuh seluruh. Dan ya, setelah tinggal di sini, saya belajar untuk mencari sisi romantis Jakarta.

Di kota besar macam Jakarta, yang romantis justru bisa didapatkan dari hal-hal kecil. Seperti menemukan buku langka di sebuah toko buku bekas. Atau makan masakan kampung halaman yang enak dan murah. Juga menghargai ulang pertemuan dengan kawan-kawan. Maklum, kota yang kencang berlari ini membuat bertemu dengan kawan itu susahnya minta ampun. Alasannya beragam. Mulai lembur kantor, jadwal yang bertumbukan, hingga gentar menembus macet.

Setelah tahu sela-sela manisnya kota Jakarta, kota ini jadi mirip kehidupan di komik-komik Mitsuru Adachi. 

Jadi, di sini lah saya sekarang. Mungkin saya dan Rani akan lama tinggal di kota terkutuk-namun-dicintai. Bisa juga cuma satu dua tahun saja. Lalu kemana lagi?

Entahlah... []

7 komentar:

  1. smoga anda tabah, bung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Sedang dicoba nih mas. Doakan saja ya :D

      Hapus
  2. Berlaku juga buat saya.
    Saya sudah terjebak 3 tahun 9 bulan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh. Lama juga ya? :D Semoga suatu saat nanti bisa keluar dari kota ini :D

      Hapus
  3. "Orang zaman dulu selalu bilang: jangan berlebihan dalam membenci sesuatu", bener iki:D Jaman SMA benci karo Surabaya, ga gelem kuliah nang Surabaya lhakok temenan kuliah di Surabaya, oleh bojo wong Surabaya, kerja nang Surabaya pisan:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wekekekeke. Karma yo Lek :)) Lho saiki awakmu nang Surabaya ta? Tak pikir sik nang Bali.

      Hapus
  4. lah mas, saya juga ndak suka je sama jakarta. jangan-jangan ntar jadi kayak mas nuran sama mbak rani lagi :)))

    tapi seendaknya ini bisa jadi gambarnan nek saya beneran tinggal di jakarta. hahaha.

    (ndak) amin. :))

    BalasHapus