Minggu, 13 Oktober 2013

Selamat Menikah, Ade!

Selain kematian dan kelahiran, salah satu peristiwa yang nyalar membuat saya sentimentil adalah pernikahan. Apalagi kalau yang menikah adalah orang-orang terdekat saya. Momen itu tak pernah gagal membuat bulu kuduk saya merinding haru.

Dulu waktu kawan saya Nova menikah, saya juga sempat sedikit berkaca-kaca melihatnya yang berdiri di depan kwade sembari tersenyum lebar. Kenal dia sejak tahun 2003 dan melewati lacak masa susah senang sama-sama, membuat saya gagal untuk tak melankolis melihat dia akhirnya menikah. 

Dan tadi malam, saya kembali tersedak haru. Kawan baik saya semenjak SMA, Ade Defrizal, menikah. Perjuangannya untuk menuju pernikahan memang sangat berat. Andai hal itu tak dialami oleh Ade, mungkin yang mengalami akan roboh di tengah jalan. Namun Ade akan selalu jadi Ade, pria yang tetap tegar dan suka cengengas-cengeges dalam kondisi seberat apapun.

Meski kami dekat, momen personal diantara kami hanya bisa dihitung dengan jari. Saya dulu memang sempat beberapa kali kesal dengan pria kurus kering ini. Penyebabnya ada beberapa, tak perlu lah disebutkan di sini. Namun bukankah memang itu arti kawan? Berkawan, bertengkar gara-gara hal sepele atau serius, lalu berbaikan lagi dan mengenyahkan ganjalan-ganjalan tak penting. Dan saya merasa beruntung bisa berbagi cerita di saat-saat terberatnya beberapa waktu lalu menjelang pernikahannya.

Saat Ade ke Jogja sendirian, 17 November 2012

Waktu Ade mengalami masa-masa terberatnya sekitar dua-tiga bulan silam, saya sempat ngobrol banyak dengannya. Bisa dibilang itu wawancara, dan saya pun sempat bilang ke Ade kalau hasil obrolan itu akan saya jadikan tulisannya. 

Reaksinya singkat, "pokok ojo ngisin-ngisino aku cuk." Hihihi. 

Padahal saya tak ada maksud buat bikin malu dia. Keinginan membuat tulisan itu muncul karena kekaguman saya pada kekuatan Ade kala itu. Hasil wawancara itu sudah saya jadikan tulisan. Sayang ada beberapa pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan. Mungkin nanti akan saya tanyakan lagi ke Ade.

Tadi malam Ade akhirnya resmi menikah dengan Azizah, perempuan idamannya yang ia perjuangkan cukup lama. Azizah, meski saya belum sempat bertemu dengannya, membuat saya yakin kalau ia adalah pendamping yang tepat bagi Ade. Apalagi saat Ade dengan bersemangat dan berbinar-binar menceritakan mengenainya, saya semakin yakin kalau Azizah adalah perempuan baik yang juga akan jadi pendamping hidup yang baik bagi Ade.

Sebenarnya waktu dikabari Ade akan menikah tanggal 12 bulan ini, saya sudah merencanakan datang bersama Fahmi. Tapi Ade melarang, karena ini cuma akad nikah saja. Resepsinya sendiri masih ditunda hingga waktu yang belum saya tahu. Akhirnya saya dan Fahmi pun tak jadi datang. 

Pagi ini Jogja sedang dingin. Dingin ini sepertinya terjadi nyaris di seluruh Indonesia, termasuk Mojokerto, kota di Jawa Timur tempat Ade dan Azizah mengikat ijab. Pasti Ade dengan senyum berbinar tak merasakan dingin sialan ini. Maklum sudah ada yang memeluk. Halal pula. Hihihi.

Sedari tadi malam saya terus-terusan memutar lagu dari Begundal Lowokwaru, band hardcore asal Malang. Meski tampang dan musik mereka sangar (saya pernah melihat mereka langsung di Jember saat mereka tampil bareng Superman is Dead), tapi mereka juga gagal untuk tak melankolis saat salah satu kawan mereka menikah. Akhirnya band asal Malang ini menuliskan sebuah lagu yang manis, "Selamat Menikah Teman". Liriknya pun manis, tapi tidak terkesan menye-menye. Sama sekali tidak. Justru sangat maskulin dan membesarkan hati.

Lelahkah kau teman berlari bersama kami,
Kuyakin itu takkan pernah terjadi
Pagi ini kau kan jelang fajar baru, bersanding dengan belahan jiwa yang mengertimu
Hanya hari yang berganti tetap dengan senyummu, ketika menggandeng mempelaimu.
Bersinarlah kami yakin kau tak akan pernah berubah.

Aaaaaaahhh,
Selamat menikah teman,
Sapalah sang mentari diufuk baru.
Aaaaaaaaaahhhhh,
Kepal keras tangan, kini kau telah punya pendamping, selamat menikah teman

Dan esok, kau pasti tetap tuangkan rindumu pada kami dengan rasa bangga di jiwamu.
Pastikan tetap temani hari-hari kita, dengan istri disampingmu, dan dengan bayi dipelukmu
Sebuah tanggung jawab, tlah temukan arti bagimu
Teruskan nafas hidupmu, walaupun kau harus berbagi.

Mungkin saya belum bisa memberikan apa-apa buat Ade dan Azizah. Hanya tulisan pendek  tak berguna ini. Namun apa yang tertulis akan abadi, ketimbang satu pak viagra atau sekotak tissue magic yang mungkin bisa habis dalam waktu dua tiga hari saja. Maklum pengantin baru.

Ade dan Azizah, semoga tulisan sumir ini menjadi tapal ingatan daim, bahwa aku turut berbahagia untuk kalian berdua.

Peluk hangat dari Yogyakarta
04.47 wib

post-scriptum: De, kalau ada fotomu resepsi, mbok anak-anak di-tag. Biar kami tahu, kamu pas foto itu mesem sambil mangap apa mesem malu-malu :p

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar