Rabu, 07 Maret 2012

Banyuwangi, Bali, Chili, Gili (Part 1)

Tanggal 10 Februari 2012. Pagi masih muda. Selepas sarapan bubur di pasar Tanjung, dengan keyakinan mantap, saya menarik tuas gas motor. Lalu perlahan tapi pasti, motor saya membelah pagi yang cerah. Dari Jember menuju Banyuwangi biasa ditempuh dalam waktu 3 jam.

Ada beberapa spot yang menarik ketika menuju Banyuwangi. Spot pertama adalah perkampungan pecel Garahan. Garahan adalah sebuah daerah di ujung Jember. Dulu di stasiun Garahan, banyak terdapat penjual nasi pecel pincuk. Harganya murah meriah (2500-3000) dan lauknya sederhanya: tempe dan tahu. Rasa bumbu pecelnya pedas bercampur sedikit manis dengan tekstur kacang yang kasar. Karena selalu laris, akhirnya para penjual mulai ekspansi di jalan. Mendirikan warung-warung berbahan dasar bambu dan beratap kain spanduk. Sekarang di sepanjang jalan Garahan, ada belasan warung yang menjual nasi pecel. Kalau penasaran, tak ada salahnya mencoba nasi pecel murah meriah ini. Oh ya, juga disediakan lauk tambahan seperti ayam goreng atau telur asin.

Spot kedua adalah Gunung Gumitir. Sebelum masuk Banyuwangi, kita akan melewati kelokan-kelokan tajam nan panjang disana. Gunung ini begitu menggoda bagi para pecinta adrenaline. Tinggal menarik tuas sedalam-dalamnya, mencoba menikung, dan menghindari truk atau bis berukuran gigantis. Jangan lupa untuk menghindari lubang menganga yang siap memamah anda ketika lengah.


Salah satu yang menarik dari Gunung Gumitir ini adalah adanya tukang awe-awe. Ini adalah sebutan untuk orang yang berdiri di pinggir jalan, memberikan semacam peringatan mengenai ada atau tidaknya kendaraan di depan yang terhalang tikungan, sembari melambaikan tangan (mengawe). Para tukang awe ini terdiri dari nyaris semua umur: kakek, nenek, bapak, ibu, anak, bahkan bayi. Sempat saya bertanya kenapa anak-anak kecil itu tidak sekolah. Tapi jawabannya sudah jelas: biaya. Ya, itu adalah alasan klise namun masih saja relevan.

Kalau malam tiba, biasanya para tukang awe-awe ini tinggal di gubuk sederhana yang mereka buat sendiri sembari menyalakan suluh kecil sebagai penanda jalan. Karena memang nyaris tak ada penerangan di gunung ini.

Saya menghirup udara Banyuwangi sekitar pukul 11 siang. Agak lama karena saya beberapa kali berhenti untuk ngaso dan memotret. Pemandangan di pintu masuk Banyuwangi sebenarnya tidak seberapa spesial. Sawah, rumah penduduk, atau pasar. Sesekali jejeran rumah makan. Salah satu yang sempat membuat mata saya melirik dan nyaris membuat saya menghentikan motor adalah penjual es degan durian. Hmm, sepertinya nikmat. Membayangkan kelapa muda dan durian bercampur, ditambah dengan es batu, pasti sangat segar diminum ketika hari sedang terik begini. Tapi saya berhasil mengalahkan godaan itu dan tetap meneruskan perjalanan.

Saya menuju rumah Om Asang, adik dari almarhum ayah saya. Ia bekerja sebagai peneliti budaya. Karena itu saya beberapa kali diundang menyaksikan acara budaya suku Using, suku asli Banyuwangi.

Siang masih saja terik ketika saya disuguhi sepiring nasi pecel lengkap dengan lauk paru goreng. Alamak, lupakan kolesterol. Makanan adalah nikmat yang harus disyukuri kapanpun ia datang. Karena lapar, tak seberapa lama nasi itu pun sudah tandas. Dan layaknya yin-yang, kenyang dan kantuk itu adalah sepasang dan nyaris tak bisa dipisahkan. Saya pun resmi tertidur.

Ketika bangun, hujan deras turun dan petir menyambar. Membuat saya merapatkan selimut. Padahal rencananya jam 3 sore saya sudah harus menuju Bali. Ah, santai saja. Toh tak ada yang harus dikejar. Saya menoleh sejenak ke jendela, menatap rinai hujan dengan pandangan nanar, lalu kembali mengatupkan mata.

Kembali tidur.
***

"Siang mas. Tolong surat-suratnya" sapa seorang petugas di pelabuhan Ketapang. Hari masih tidak terlalu panas. Saya mengeluarkan surat yang diperlukan. SIM dan STNK.

"Mau kemana mas? Kok bawaannya banyak banget?" tanya sang petugas melihat tas carrier saya yang nemplok di punggung. Saya bilang saja mau kemping di Lombok. Ia mengatakan bahwa ombak sedang bagus, tidak terlalu bergolak. Jadi dia menjamin bahwa perjalanan menuju Lombok pasti lancar. Semoga.

Setelah membayar tiket sebesar Rp. 16.000, saya langsung mengarahkan motor menuju kapal. Memarkirnya, lalu naik ke atas geladak. Seperti biasa, tak pernah berubah, kapal dibuat riuh oleh para penjual beraneka barang dengan aneka cara promosi. Ada yang melawak, ada yang melempar ke penumpang.

Tak berapa lama, terdengar suara dengung dari bagian buritan. Buih putih menderas. Gelembung air berlompatan. Kapal bergerak perlahan. Meninggalkan pulau Jawa.

So long!
***

Bali sedang bergembira. Tanggal 12 Februari adalah hari besar untuk penduduk Bali, Hari Raya Kuningan.  Para penduduk Bali turun ke jalan dengan pakaian adat yang didominasi warna putih dan kuning. Membawa sesajen yang ditempatkan pada daun nyiur. Mata-mata mereka bulat nan indah. Dahi mereka dihias dengan butir beras. Mereka bergembira dan senyum pun berparade. Mereka seperti menyadari betul bahwa hidup adalah perayaan.

Dan yang membuat saya tersenyum gembira, perempuan-perempuan Bali muncul dengan pakaian adat. Mereka terlihat begitu anggun. Sangat cantik sekaligus eksotis. Beberapa kali saya bertukar senyum dan sapa dengan para gadis ini. Aduh! :)

Seperti biasa, saya beberapa kali berhenti untuk memotret dan mengobrol dengan beberapa orang yang saya temui dengan acak di jalan. Salah satu spot menarik di sepanjang jalan Gilimanuk-Denpasar, adalah di perbatasan Negara-Tabanan. Di sebelah kanan ada persawahan. Pemandangan hijau itu ditingkahi dengan birunya lautan lepas. 



Saya pun sempat berhenti sejenak di pantai yang saya lupa namanya. Memakan jagung bakar sembari ngobrol dengan bocah-bocah kecil kenes yang minta dipotret dengan malu-malu.

"Kamu dimana ran?"

Sebuah sms masuk. Dari kak Wiwin. Sepupu saya ini ternyata mengkhawatirkan saya yang tak kunjung datang. Dikira ada apa-apa. Saya baru sadar. Saya menengok langit yang ternyata sudah menua. Tampaknya sebentar lagi matahari akan lelap dan hari akan gelap. Saya harus bergegas. Rumah kak Wiwin ada di Tabanan, disana saya akan menginap.

Selepas jagung tinggal bonggol, saya kembali memacu motor. Membelah Bali yang sedang bergembira dan larut dalam upacara adat yang syahdu.

Is everybody in? The ceremony is about to begin...
***
 
Rumah kak Wiwin terletak di sebuah perumahan kecil dekat pusat kota Tabanan. Saya selalu mampir kesini setiap pergi ke Bali. Hari ini saya akan menginap semalam, untuk kemudian pergi menuju Lombok pada esok paginya.

Malam datang. Suara anjing melolong. Saya jadi ingat pernah lari terbirit-birit bersama Budi, kawan akrab saya semenjak SMP, gara-gara digonggong oleh anjing di perumahan ini. Kami berdua memang takut anjing. Saat itu ban motor kami bocor dan harus dituntun. Ada anjing di depan kami, berdiri dengan gagah dan menatap kami dengan nyalang. Kami sok berani dan mengatakan pada diri sendiri "jangan lari, jangan lari".

"Guuuk!" anjing itu mengonggong. Dan kami pun ngibrit ketakutan, menaiki motor yang bannya bocor itu. Sialan. Kami hanya mampu meneriakinya "Jancuk!" dari kejauhan. Ya, kami sangat menyedihkan kalau berhadapan dengan anjing.

Karena lelah, tak butuh waktu lama untuk terlelap. Mimpi membawa saya lebih ke timur. Menuju Lombok dengan pantainya yang nyaris tak pernah gagal membuai saya.

Besok Lombok. Besok, saya akan datang padamu...

2 komentar:

  1. pernah motoran di malam hari dan tengah hujan dari Taman nasinal Bali Barat ke KUta, sampe Kuta jam 2 pagi. Pengalamannya Sesuatu banget ha ha ha...s

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa muda masa yang berapi-api mas :D

      Hapus