Kamis, 24 April 2014

Antara Pempek Asiong dan Pempek Selamat

Rampai Pempek di Asiong


Masih ingat perseteruan antara Jambi dan Palembang beberapa waktu lalu? Bagi yang lupa, atau bahkan belum tahu, mari saya ingatkan lagi.

Dua daerah dalam satu pulau ini bertikai perkara sepele: pempek. Namun, banyak pertikaian besar berawal dari hal sepele. Seperti perang antara Troya dan Akhaia yang bermula dari perempuan bernama Helen.

Pempek memang bukan lagi sekedar makanan. Ia adalah identitas tersendiri. Bagi banyak orang, makanan yang terbuat dari ikan ini adalah simbol kota Palembang. Namun yang harus disadari, pempek yang konon dibuat sejak abad ke 16 sudah ada semenjak belum ada negara bernama Indonesia.

Pempek konon berasal dari bentala Swarnadwipa --istilah kaum India untuk menyebut Sumatera kuna, sebelum Masehi-- yang sudah ada sebelum nama Sumatera diberikan. Dan kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar di butala Swarnadwipa, punya kekuasaan yang luas merentang. Dari Jawa, Semenanjung Malaya, Kamboja, Thailand, hingga daerah yang kini dikenal sebagai tanah Sumatera.

Karena berinduk kerajaan yang sama pula, orang Jambi dan Palembang sekarang, bisa disebut berasal dari akar yang sama. Karena itu, tak perlu heran kalau ada beberapa makanan khas dua daerah itu yang sama. Mie celor, misalnya. Mie yang kaldunya terbuat dari udang ini bisa ditemukan baik di Palembang maupun di Jambi. 

Pempek sebenarnya juga demikian. Namun karena nama besar pempek sudah menjadi simbol tersendiri, maka Palembang dan Jambi pun sampai berebut. Duh! Sewaktu saya berkunjung ke Palembang beberapa tahun lalu, saya sempat menyicipi pempek di sana. Sayang, saya lupa apa nama warung pempek itu. 

Saya belum sempat mencoba pempek khas Jambi. Kebetulan menjelang pernikahan, saya punya waktu untuk jalan-jalan di Jambi. Rani pun mengajak saya untuk mencicipi pempek khas Jambi.

Di Jambi, ada banyak sekali penjual pempek. Nyaris di tiap sudut jalan ada penjual pempek. Dari kelas ruangan berpendingin udara, hingga bangunan kecil berdinding papan kayu.

Secara garis besar, ada tiga mazhab pempek di Jambi yang acap dijadikan rujukan utama: Pempek Asiong, Pempek Selamat, dan Pempek Sumsel. Di luar tiga nama beken itu, ada puluhan, bahkan ratusan pempek yang bisa dicoba. Semua punya pelanggan setia masing-masing.

Makanan sebenarnya sama seperti agama. Itu adalah pilihan personal. Dan, sama seperti agama pula, selera pada makanan tak bisa dipaksakan. De gustibus non est disputandum.

Rani mengajak saya pergi ke Pempek Asiong dulu. Ini langganan keluarganya sejak masa lampau. Pempek Asiong memang sudah punya nama besar, sekaligus menjadi pempek tertua yang ada di Jambi. Mereka berjualan semenjak tahun 1974.

Dulu pempek ini menempati bangunan kecil nan sempit berdinding papan di daerah Talang Banjar. Namun baru-baru ini, mereka pindah ke sebuah ruko di seberang jalan, yang berukuran lebih besar dengan suasana yang lebih nyaman. 

Daerah Talang Banjar sendiri sudah dikenal sebagai ruas pempek, macam Wijilan yang dikenal sebagai sentra gudeg di Yogyakarta. Di Talang Banjar, kalian bisa menemukan Pempek Selamat, hingga Pempek Sumsel. Tinggal pilih yang sesuai selera.

Penyajian pempek di Asiong cukup asyik. Mereka mengeluarkan semua pempek jenis kecil, mulai lenjer sampai kulit. Juga otak-otak dan pempek keriting. Kita tinggal memilih mau mengambil yang mana. Dihitung belakangan. Untuk pempek ukuran besar seperti pempek kapal selam, harus memesan dulu.

Saya sendiri memesan pempek kapal selam, dan mengambil beberapa pempek kecil. Pempek kapal selamnya standar saja, nothing special. Saya malah suka pempek kulit mereka yang renyah. Pempek panggang Asiong juga patut diacungi jempol. Ini adalah pempek yang dibelah tengah, lalu diisi campuran rebon berbumbu pedas manis, kemudian dipanggang. Teksturnya liat, dengan aroma panggang yang raksi.

Keesokan harinya saya mencoba Pempek Selamat. Beda dengan Asiong yang populer namun tetap tak membuka cabang, Pempek Selamat membuka cabang dimana-mana. Bahkan mereka ekspansi sampai Jakarta.

Di Pempek Selamat saya mencoba pempek lenggang. Ini adalah potongan pempek yang dicampur dengan kocokan telur lalu digoreng. Ya telur dadar isi pempek lah. Hidangan ini disajikan bersama mie kuning, bihun, serpihan halus rebon, dan cacahan timun.

Di tempat ini, pempek disajikan berdasar apa yang kita pesan. Jadi agak berjudi. Jangan memesan terlalu banyak, sayang kalau tak habis. Tapi di Selamat, cuko disajikan dalam teko kaca berukuran besar. Jadi kita bisa bebas menambah cuko. Keunggulan Selamat juga ada pada tambahan sambal yang disajikan di meja, andai cuko kurang pedas. Ini tak ditemukan di Asiong.  

Keluarga besar saya, yang rata-rata pecandu rasa pedas, menambahkan sambal yang membuat cukonya jadi lebih membakar.

Untuk rasa, sebenarnya nyaris tak berbeda. Begitu pula rasa cukonya. Sama-sama enak. Hehehe. Tapi saya menyarankan anda membeli mentah lalu menggoreng sendiri di rumah. Kerenyahanya lebih terasa. Di kedua kedai itu, kadang pempek yang disajikan sudah dingin, dimana hal itu mengurangi drastis tingkat kerenyahan. 

Saya membungkus satu kotak pempek Asiong untuk kawan-kawan kantor. Baru saja, beberapa menit lalu, kami menggoreng pempek itu. Rasa pempek yang baru diangkat dari penggorengan memang jauh lebih enak ketimbang pempek yang sudah dingin. Oh ya, barusan kami makan pempek itu dengan cuko yang sudah didinginkan. Jadi ada kesan segar yang mengasyikkan. 

Hingga tulisan ini saya posting, saya belum sempat mencicipi pempek Sumsel yang sama terkenalnya. Mungkin lain kali lah, toh saya bakal sering mengunjungi Jambi. []

Post-scriptum: Sudah sejak lama saya menaruh kagum dengan kedai makan berumur panjang. Rasa kagum itu makin berlipat waktu menemukan penjualnya masih hidup dan bugar. Untuk itu, di beberapa kesempatan, saya seringkali berfoto dengan penjual yang berumur senja itu. Di gurat kulit renta mereka, tersimpan banyak jejak cerita gastronomi dan keuletan yang mengagumkan. 

Asiong, sang pendiri Pempek Asiong, masih hidup dan sehat. Saya menebak usianya sudah lebih dari 70 tahun. Tapi ia masih rock n roll. Setiap sore menjelang petang, lelaki berambut putih itu duduk di depan warung, hanya memakai celana pendek dan kaos singlet, dan dengan santai menghisap rokok. Seakan sisa waktunya di dunia tinggal dibuat bersenang-senang dan menikmati hidup belaka. Momen itu jadi terasa sangat puitis bagi saya.

Karena itu saya meminta foto bareng dia. Sayang dia menolak dengan halus permintaan saya. Rani tertawa-tawa melihat Asiong menolak permintaan saya sembari malu-malu. Katanya itu berkaitan dengan fengshui. Entah itu benar atau tidak. Semoga Koh Asiong terus diberkati kesehatan.

Jumat, 18 April 2014

Apa Susahnya Jadi Bujangan?

Sila Datang Kalau Berkenan :)

Dalam waktu dua hari lagi, 19 April 2014, saya akan mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya: menikah. 

Hehehe.

Tentu ada banyak pertimbangan sebelum menikah. Tapi semua pertimbangan itu bermuara pada satu hal: memang saya ingin sekali menikah. Lagipula saya mencintai Rani, perempuan yang akan saya nikahi. Bersamanya, saya punya banyak mimpi yang ingin sekali saya capai. Punya anak-anak yang sehat dan lucu. Rumah di pinggir pantai. Hingga sepasang anjing Siberian Husky dan Samoyed. Itu baru tiga keinginan saja.

Dulu, saya ibarat seorang pejalan yang selalu sendirian. Berusaha mencapai keinginan saya sendirian. Masa-masa itu selalu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Tapi kadang, di satu titik tertentu, bisa sangat melelahkan. Apalagi menyadari tak ada orang yang bisa diajak berbagi. 

Itu juga salah satu alasan saya menikah. Saya ingin ada orang untuk berbagi hingga kelak nyawa saya dicabut dari ubun-ubun suatu hari nanti.

Dan Rani adalah partner yang menyenangkan untuk berbagi. Rasa-rasanya saya sanggup menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk bercerita dengannya. 

Saya sudah berpacaran nyaris dua tahun dengan Rani. Membagi banyak hal dengannya. Berkisah sama banyaknya. Kadang, pada momen tertentu, saya bisa menangis di hadapannya. Semua masa-masa itu, membuat dan menempa, semakin meyakinkan saya, bahwa Rani adalah perempuan yang saya cari. Semoga selamanya akan begitu.

Sebenarnya saya sudah menulis feature lumayan panjang mengenai pernikahan saya ini. Di dalamnya ada banyak percakapan dengan orang-orang yang saya anggap sebagai guru saya: Mas Puthut EA; Mas Philips Vermonte; Mas Farid Gaban; dan Cak Rusdi Mathari. Tapi saya terpaksa menunda memuat tulisan itu karena dua hal. Tulisan itu belum purna, dan saya lupa dimana menaruh file itu. 

Dasar otak terkutuk.

Tulisan spontan ini saya buat di sebuah kedai bandrek di pinggir jalan kota Jambi. Saya sedang menghabiskan waktu bersama Ayos. Ia kawan saya sedari SD. Kami pernah menghabiskan banyak masa bujang bersama, di jalanan. Dari Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Madura. 

Ia kebetulan juga akan menikah di bulan Mei mendatang. Hanya beda satu bulan dengan saya. Tadi sore kami banyak mengobrol tentang pilihan kami menikah. Diiringi gelak tawa tentu saja.

Kalau sedang sentimentil, saya dan Ayos sering membatin. Betapa cepat waktu berderap. Tiba-tiba saja, dari kami yang bongak dan sombong berkata bahwa menikah itu menyusahkan, kami sudah akan menikah. Kami dimamah oleh kecongkakan kami sendiri. Tapi ya sudahlah, itulah manusia, orang yang seringkali ditampar oleh kepongahannya sendiri.

Malam semakin tua di Jambi. House music dari kedai penjual bandrek ini semakin bising (dan mengganggu). Indomie goreng dan pisang bakar sudah ludes sejak beberapa menit lalu. Kucing di bawah kursi asyik mengais-ngais kaki saya.

Dua hari lagi, saya akan duduk bersandingan dengan wanita yang saya cintai, di hadapan pria yang membesarkannya dengan penuh seluruh. Sedang keluarga saya ada di belakang saya, mamak dan tante-tante duduk anteng dengan mata yang sembab. Dan saya akan, insyaallah, dengan mantap mengatakan...

"Saya terima nikahnya dengan mas kawin yang tersebut."

post scriptum: bagi kawan-kawan yang ada di sekitar Jambi, silahkan datang ke acara resepsi saya kalau berkenan. Undangan ada di atas tulisan. Sekalian saya minta doanya, agar pernikahan ini hanya akan dipisahkan oleh maut.

Senin, 14 April 2014

Dunia Penuh Desas Desus

Dunia buku bekas di Indonesia adalah dunia dengan banyak kabar angin, desas desus, dan juga mitos.

Misalkan cerita ini. Seorang pedagang menjual buku Serat Centhini klasik, tulisan tangan. Dalam sebuah pameran buku, kitab antik itu ditawarkan dengan harga fantastis: 5 milyar rupiah. Kemudian kabar angin berlanjut. Seorang menteri di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, menawar buku itu dengan banderol 250 juta rupiah. 

Sang pedagang menolak. Alasannya, selain karena penawaran itu dianggap terlalu murah, juga agar buku-buku dagangannya yang lain juga ikut terkerek harganya. Sekarang buku Serat Centhini itu ia simpan dalam lemari besi di bank swasta.

Setelah ditelusuri, kisah itu bukan sekedar mitos. Melainkan kisah nyata. Pedagang itu bernama Daus, pemilik toko buku Samudera.

Daud, pemilik toko buku Samudra, pernah membuat gempar para pengunjung Indonesia Book Fair dua tahun silam. Ia memajang tiga baliho berukuran sedang di stannya, menawarkan tiga buku antik dengan harga luar biasa mahal. Buku pertama adalah Tan Malaka Bapak Repoeblik Indonesia  karya Mohammad Yamin cetakan tahun 1946 yang ia banderol 150 juta rupiah.

Buku kedua adalah album foto orisinil kunjungan mantan Presiden Soeharto di Jepang pada tahun 1968. Album foto ini ia beri harga lebih mahal: 200 juta. Namun yang paling bikin kaget adalah buku Serat Centhini buatan tahun 1814 yang harganya 5 milyar! Konon buku ini hanya ada tiga eksemplar di seluruh dunia.

Daus yang sudah lebih dari 10 tahun terjun dalam dunia perbukuan, menganggap harga buku antik itu memang mahal karena sebanding dengan kesukaran mencari bukunya. Hingga sekarang buku ini belum laku. Desas desus di kalangan pedagang dan pembeli buku bekas, buku Serat Centhini tulisan tangan ini pernah ditawar oleh salah seorang menteri era Susilo Bambang Yudhoyono seharga 250 juta. Tapi ditolak karena penawaran itu terlalu murah.

Ada lagi cerita: tentang kisah seorang anak mantan presiden Indonesia. Suatu hari ia datang ke pusat buku bekas di Blok M Square dengan membawa uang sebanyak 25 juta rupiah. Hari itu ia pulang dengan membawa tumpukan buku dan… tanpa sepeser pun uang sisa.

***

Siahaan tampak sibuk sore itu. Ia memasukkan banyak buku ke dalam kardus bekas air mineral. Ada sekitar 10 buku yang sudah ia masukkan di dalam kardus. 

"Ini pesanan, nanti mau dikirim ke pemesannya," katanya sembari tersenyum dan mengelap peluh. 

Siahaan bertubuh pendek, namun kekar. Rambutnya pendek. Berwarna hitam dengan sedikit uban di sana sini. Ia mudah dikenali: ada dua tahi lalat. Masing-masing satu di rahang kanan dan rahang kiri. Siahaan adalah salah satu pedagang lama di kios pasar buku Senen. Pria asal Medan ini sudah membuka lapak di Senen sejak tahun 1988. 

"Tapi saat itu masih di depan terminal. Lalu ada penggusuran, dan dipindah ke dalam," ujarnya.

Siahaan yang menempati kios berukuran 1,5 x 2,5 m di Blok E itu selalu bersemangat kalau membicarakan soal buku. Sebagai pedagang buku, ia suka membaca semua buku dagangannya. Namun ia paling suka membaca buku sastra.

Karena itu, banyak buku dagangannya adalah sastra. Baik klasik maupun modern. Di rak, tampak buku karya sastrawan dan penulis besar. Shakespeare. Emily Bronte. Charles Dickens. Cervantes. Hingga John Steinbeck, pengarang favoritnya. Ia mengaku punya semua koleksi buku Steinbeck. 

"Tahu buku Steinbeck yang paling bagus?" tanyanya. 

Travels With Charley?” tanya saya. Itu buku Steinbeck favorit saya, mengenai pengalaman Steinbeck berjalan-jalan keliling Amerika dengan naik truk camper ditemani anjing French poodle kesayangannya. 

"Iya. Itu bagus juga. Tapi menurut saya The Grapes of Wrath itu yang paling bagus," katanya menjawab sendiri pertanyaannya, sembari mengeluarkan buku itu, terbitan Pinguin Classic, dari rak.

Siahaan punya dua buku The Grapes of Wrath, dari penerbit yang berbeda. Itu ia lakukan karena dulu pernah ada seorang pembeli asal Yogyakarta yang mencari buku itu, rela membayar mahal. Tapi Siahaan ternyata kehabisan stok. 

Kejadian itu jadi pelajaran. Sekarang, saat ia menemukan buku-buku babon sastra, ia pasti membelinya. Kalau perlu beli dua atau tiga eksemplar, seperti yang ia lakukan pada The Grapes of Wrath.

Siahaan banyak bercerita mengenai dunia buku bekas di seputar Pasar Senen sore itu. Ia mengatakan bahwa perdagangan buku bekas ternyata mempekerjakan banyak sumber daya manusia. Siahaan mencatat bahwa sebelum ada pendataan pedagang buku bekas di Senen, ada sekitar 30 orang pedagang buku bekas di tempat itu. Setelah dilakukan pendataan menjelang relokasi ke kios, ternyata sudah ada 46 orang yang berdagang buku. Itu belum ditambah dengan makelar buku yang berjumlah sekitar 20 orang.

"Makelar itu orang yang tak punya lapak dan tak punya buku, tapi ikut mencarikan buku ke para pedagang. Ia mengambil komisi dari setiap buku yang laku. Jumlah 20 orang itu hanya untuk di Pasar Senen saja," kata pria kelahiran tahun 1967 itu.

Tak banyak orang yang tahu bagaimana para pedagang buku seperti Siahaan bisa mendapatkan stok buku bekas. Ternyata alur perdagangan buku bekas bisa dilacak hingga ke akar.  Menurut cerita Siahaan, akar penopang peredaran buku bekas ini adalah para pengepul buku yang mengambil buku-buku bekas dari para tukang loak. Sistem seperti ini berlaku di nyaris semua pedagang buku.

Jangan salah, di tukang loak justru bisa ditemukan buku-buku bagus dengan harga yang sangat murah. Kalau sedang beruntung, para pengepul itu bisa menemukan buku-buku bekas koleksi para pejabat, atau malah orang terkenal.

"Hal kayak gitu bisa terjadi karena kepemilikan buku di Indonesia itu belum mengenal regenerasi," kata Siahaan sedikit prihatin

Ia lantas memberi contoh seorang tokoh besar, sembari meminta nama itu tak dicantumkan. Saat tokoh besar itu meninggal, ia turut meninggalkan ribuan buku koleksinya, dan ahli warisnya tak memiliki rasa memiliki terhadap buku itu. 

"Satu bulan masih bertahan. Dua bulan masih bertahan. Tiga bulan sudah mulai gak tahan. Ahli waris pasti berpikir kalau ribuan buku itu memakan banyak tempat, dan makan biaya perawatan. Jadi mending dijual saja semuanya,” katanya.

Biasanya buku-buku peninggalan seperti itu dijual borongan. Siahaan menyebutkan buku koleksi milik tokoh besar itu berjumlah dua truk. Konon ribuan buku itu dijual dengan harga hanya 15 juta rupiah saja. Padahal banyak diantaranya yang merupakan buku babon dan buku langka.

Disinilah peran para pengepul. Kaum pengepul biasanya hafal dimana saja tukang loak ini mangkal. Juga punya jaringan luas soal buku milik tokoh besar yang dijual.



"Para pengepul itu biasanya disebut sebagai pedagang tingkat pertama," kata Rico, salah seorang pemilik kios buku di Blok M Square.

Rico sudah sejak 2009 membuka kios di Blok M. Namun sebelum itu ia sudah sejak tahun 2001 menjadi "pemain lapangan", istilahnya untuk menyebut penjual yang mencari buku di lapangan, bukan sekedar menjual di kios.

Pria kelahiran Padang itu termasuk salah satu pedagang buku gelombang pertama di Blok M Square. Sebelumnya, ia membuka kios buku di Jatinegara. Para sejawatnya di Blok M, memanggil ia dengan sebutan 'bang', tanda ia cukup dihormati oleh para pedagang lain.

Rico dengan unik membuat sendiri jenjang pedagang berdasarkan tugas dan harga beli buku. Dalam sistem itu, bisa diketahui kalau ada empat tingkat pedagang buku.

Yang pertama, ia sebut dengan pedagang tingkat satu. Istilah lainnya adalah pemain lapangan, atau pengepul. Mereka adalah orang-orang yang bertugas untuk keliling Jakarta, mendatangi para tukang loak untuk mencari buku yang layak beli. Pedagang tingkat ini biasanya membeli buku di loakan seharga dua ribu hingga tiga ribu rupiah per buku. Atau kadangkala dengan sistem kiloan. Pedagang pertama ini lantas menjual buku ke pedagang kedua. 

Pedagang kedua ini sebenarnya nyaris sama dengan pedagang pertama. Pedagang kedua juga turun ke lapangan, namun mereka juga punya kios. Jadi mereka bisa saja membeli dari pedagang pertama, namun kadangkala mencari barang sendiri ke tukang loak. Jika pedagang kedua membeli dari pedagang pertama, harganya berkisar antara empat ribu sampai enam ribu rupiah per buku. Juga bisa memakai sistem kiloan. 

"Pedagang kedua lantas punya pilihan. Menjual di kiosnya sendiri, atau mengopernya ke pedagang ketiga," tukas Rico.

Pedagang ketiga ini adalah pedagang yang murni berdagang lewat kios. Mereka nyaris tak pernah turun ke lapangan. Biasanya mereka dapat buku dari setoran pedagang kedua.  "Kisaran harga belinya antara tujuh hingga sembilan ribu, lalu mereka menjual dengan harga tergantung mereka," Siahaan menerangkan.

Kasta paling tinggi adalah pedagang tingkat empat. Golongan ini adalah penjual yang khusus menjual buku-buku dengan harga fantastis. Harga bukunya berkisar ratusan ribu, hingga ratusan juta. 

Salah satu pedagang yang seperti itu adalah Ipung. Ia adalah pemilik kios buku Bumi Nusantara di Blok M Square.

Sejak mulai berdagang buku pada 2010, Ipung memang sudah memposisikan diri sebagai penjual buku dengan harga dan segmen premium. Kisaran harga buku di tempatnya mulai dari 75 ribu hingga yang termahal 75 juta.

Harga itu tak mengherankan. Karena koleksi buku Ipung memang klasik dan antik. "Saya sejak awal memang sengaja fokus ke buku tentang sejarah, sastra, dan seni, buku antik," tukas lelaki yang dulu bekerja sebagai fotografer musik sebelum total menerjunkan diri jadi pedagang buku bekas.

Saat ditanya harga buku termahal yang pernah ia jual, pria berambut gondrong ini sedikit rikuh. Tapi akhirnya ia mau berbagi rahasia. "Dulu saya pernah jual harga 14 juta. Itu majalah kuno, bendelan," katanya tanpa menyebutkan nama majalahnya.

Saat ini Ipung punya satu harta karun. Ia lupa judul bukunya, yang pasti itu buku tentang fauna di Ambon. "Itu cetakan tahun 1768, sudah hampir tiga ratus tahun," tuturnya tersenyum. Ia membanderol harga buku itu antara 40 hingga 75 juta.  "Jadi harga pastinya ya di kisaran angka itu lah, tergantung nego."  Hingga sekarang buku itu masih menunggu pembeli.

Selain Ipung, pedagang buku bekas lain yang fokus menjual buku-buku antik dan langka adalah Harri Purnomo.

Pria berbadan subur yang akrab dipanggil Gieb ini termasuk salah satu pedagang buku dunia maya yang fokus pada buku-buku antik dan langka. Dalam situsnya, ia menuliskan kalau toko buku miliknya hanya menyediakan "...banned books, rare books dan used books." Hal itu diperjelas dengan kredonya: Menjual Buku yang Tak Ada di Toko Buku.

Salah satu buku dagangan Gieb yang  berharga fantastis adalah Indonesia Dalem Api dan Bara. Buku yang konon hanya ada sebanyak 13 eksemplar di Indonesia ini ditawarkan dengan harga 20 juta rupiah.

"Meski sampai sekarang belum ada yang membeli, tapi sudah ada beberapa yang menawar," kata pria yang juga punya buku Tan Malaka: Bapak Repoeblik Indonesia karangan Muhammad Yamin yang ia banderol 20 juta rupiah.

Kisaran buku antik yang dijual Gieb berkisar ratusan ribu hingga ratusan juta. Seperti buku Gerilja, Politik, Ekonomi karya Tan Malaka cetakan pertama tahun 1948 yang ia banderol 850 ribu. Di lain waktu, Gieb juga menawarkan borongan 1.500 buku yang ia jual seharga 250 juta rupiah.

Ia pernah berkata suatu ketika, "Harga buku yang saya jual memang fantastis. Khusus buat manusia-manusia bibliothec fetish yang sadis."

***

Semenjak terjadi “coup d'├ętat” Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965, gerakan kiri di Indonesia dianggap sebagai musuh. Rezim Orde Baru melarang peredaran dan memberangus nyaris semua buku berhaluan kiri. Tentu saja, penentuan mana kiri dan mana bukan adalah hal yang bias.

Namun sejak rezim Orde Baru tumbang, maka berbondong-bondong orang mulai mencari buku berhaluan kiri. Mendadak buku Karl Marx, Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, bahkan D.N Aidit, yang sebelumnya dilarang, menjadi populer. 

Di dunia buku bekas, buku-buku kiri yang dulu dilarang dan diberangus, sekarang malah menempati pangsa pasar premium. Harganya bisa mencapai ratusan ribu hingga ratusan juta per eksemplar.

Ipung, sebagai salah satu pengumpul buku-buku klasik juga mengakui kalau buku kiri di zaman sekarang itu bisa berharga mahal.

"Buku-buku kiri itu buku paling seksi di Indonesia. Pram (Pramoedya Ananta Toer), Tan, Aidit," katanya.

Namun harga ini juga bergantung pada pengetahuan penjual. Kisah mengenai harga dokumen kiri ini juga menarik untuk diceritakan. Salah satunya adalah kisah tentang pengepul yang menjual sebuah dokumen D.N Aidit dengan harga sangat murah: dua ribu rupiah. Hal itu semata karena ia tak tahu bahwa dokumen tipis dengan kertas yang sudah berwarna cokelat dimakan usia itu, ternyata berharga. Terutama bagi para kolektor.

Salah seorang pedagang buku yang tahu betapa berharganya dokumen itu lantas membelinya, lalu menjualnya kembali dengan harga jutaan rupiah. Ia beruntung. 

"Itu gue juga pernah beli dokumen Aidit, harganya tiga ribu aja. Gue jual ratusan ribu ke pedagang keempat. Dia terus jual ke kolektor harganya udah jutaan," kata Rico, salah satu pedagang yang beruntung itu.

Akan tetapi, yang patut ditanyakan kemudian: apakah gagasan kiri itu memang kembali populer? Ataukah hanya soal gengsi karena bisa mengoleksi dokumen antik semata?

Menurut Siahaan, buku kiri yang laku dengan cepat dan berharga mahal itu adalah buku atau dokumen kiri yang antik. Ia memberi contoh buku Tan Malaka yang berjudul Dari Penjara ke Penjara. Yang berharga mahal itu adalah cetakan-cetakan awal. 

"Cetakan barunya sih ya gak cepat laku dan gak berharga mahal pula," katanya sembari menunjukkan buku Penjara ke Penjara cetakan terbaru, yang masih belum laku.

Hal yang sama juga terjadi pada buku-buku Pramoedya Ananta Toer terbitan lama. Harganya bisa ratusan ribu. Namun cetakan terbarunya berharga standar.

"Buku kiri itu laku karena antiknya. Bukan soal pengetahuannya," kata Siahaan tergelak.

***

Dunia buku juga dunia yang penuh nubuat. Suatu kali, diramalkan bahwa buku fisik akan habis ditelan kemajuan zaman. Atas nama kepraktisan, orang akan membaca buku digital. Jauh lebih ringan, ringkas, dan lebih murah. Plus: lebih ramah lingkungan. Ada pula tenungan bahwa toko buku akan gulung tikar satu persatu, digantikan toko buku dunia maya. Tanbiat macam itu tampaknya bukan isapan jempol belaka. Setidaknya kalau berdasarkan data statistik.

The Bookseller Association, sebuah asosiasi tempat bernaung para penjual buku di Inggris dan Irlandia, mengungkapkan kalau terjadi penurunan jumlah toko buku secara drastis. Organisasi yang menaungi sekitar 95% dari total penjual buku di Inggris dan Irlandia mengeluarkan pernyataan kalau ada penurunan anggota hingga 20%.

Pada tahun 2006, The Bookseller Association memiliki anggota sejumlah 4.495 toko buku. Namun dalam catatan mereka circa Juni 2011, ada pengurangan sebanyak 800 toko buku dan terus berkurang. Hingga sekarang anggota organisasi ini hanya 3.683 toko buku. Salah satu toko buku yang terpaksa gulung tikar adalah The Harbour Bookshop yang sudah berdiri selama 60 tahun. Salah satu manajer toko itu menyatakan alasan tutupnya toko karena, "...penjualan di toko buku ini tergerus oleh perkembangan penjualan di toko buku online."

Tren penjualan buku di dunia maya ikut berkembang saat internet ada dan melahirkan tren online shopping. Gieb adalah salah satu orang yang menyadari tren jual buku di dunia maya. Lelaki berambut tipis ini sudah berjualan buku melalui laman media sosial sejak 5 tahun lalu. Ia mulai berdagang dengan menggunakan nama akun Mijielnya Gieb di Facebook. Juga memajang koleksi dagangannya di situs tokobukumijil.com

Secara perhitungan bisnis, berjualan di dunia maya memang menguntungkan. Para penjual tak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa tempat, atau membayar listrik, misalnya. Tinggal mengunggah foto buku ke akun media sosial, maka pembeli bisa menawar, dan terjadi transaksi. Karena itu, modalnya pun tak perlu besar.

"Aku mulai bisnisku cuma modal 300 ribu," kata Gieb sembari menyeruput kopi saat saya temui di sebuah sore yang hangat.

Tak hanya menguntungkan, perputaran uang di bisnis toko buku dunia maya ini juga cepat. Di awal-awal berjualang, setiap minggu Gieb bisa mengunggah 20 buku dagangan baru. "Nyaris semua sold out," tutur Gieb yang mendapat pasokan bukunya dari para pengepul. Setiap bulan ia mengaku bisa mendapat omzet bersih 3 hingga 5 juta rupiah.

Namun semenjak satu tahun belakangan, Gieb punya banyak saingan karena sudah semakin banyak akun toko buku dunia maya. Banyak dari mereka bahkan ikut turun ke lapangan, mencari buku dari tukang loak. Kadang pula langsung datang ke para pengepul buku.

"Sekarang sih seminggu cuma bisa majang lima buku baru, itu udah mending," kata lelaki asal Solo ini sembari meringis.

Gieb lantas mencari jalur baru --yang ia sebut sebagai jalur bawah tanah-- untuk menjual dagangannya, yakni lewat jalur politisi. Jalur ini adalah menjual buku-buku antik --biasanya filsafat atau ideologi tertentu-- kepada para politisi langsung. 

“Tentu bukunya yang sesuai dengan ideologi politisinya. Seperti menjual buku Marhaenisme pada politisi PDI Perjuangan," ujarnya. 

Selain itu ia juga mulai menjual melalui twitter, media sosial yang selama ini kurang dilirik oleh akun toko buku dunia maya yang kebanyakan menggunakan Facebook. Usaha itu menampakkan hasil. Melalui jalur bawah tanah, beberapa buku dibeli oleh politisi dengan harga lumayan. Dari twitter, ia mendapatkan pembeli dari kalangan orang beken yang suka membeli buku antik.

"Dari jalur politisi, aku pernah dapat untung 10 juta dalam satu minggu. Aku buat beli motor," kata Gieb sembari tergelak.

Tren toko buku di dunia maya ini diikuti dengan tren buku digital (e-book). Seringkali, buku digital dianggap membunuh penjualan buku fisik, terutama di negara-negara maju yang penduduknya banyak memiliki sabak digital.

Angka penjualan buku digital juga mencatatkan angka yang mencengangkan. Di Inggris dan Irlandia, kenaikan penjualan buku digital mencapai 318% pada tahun 2010. Kenaikan ini dianggap turut andil terhadap tutupnya 72 toko buku fisik independen. Berdasarkan perkiraan dari jajaran eksekutif The Bookseller Association, dalam 10 tahun mendatang, penjualan buku digital akan merajai pasar, menyamai atau bahkan mengalahkan penjualan buku fisik.

Gelombang menurunnya penjualan buku fisik ini juga sampai ke Pasar Senen. Bahkan beberapa orang pedagang merasa penurunan ini sudah dimulai lebih dulu: sejak era fotokopi.

"Sebelum ada fotokopi, orang kan tak mungkin menyalin segitu banyak tulisan. Jadi harus beli buku. Pas ada foto kopi, orang tinggal fotokopi aja," kata Siahaan dengan logat Bataknya yang kental.

Pedagang buku bekas di Blok M Square juga merasakan hal yang sama. "Saat ini penjualan buku emang lagi seret," tutur Rico, "tapi kalau lagi musim buku pelajaran, keuntungannya bisa nutupin seret selama setaun."

Namun para penjual buku bekas ini masih bisa menghela nafas. Setidaknya ramalan buku fisik dihantam oleh buku digital, masih terasa jauh. Di Indonesia, pengguna sabak digital dan pembeli buku dunia maya masih sedikit. Setidaknya tak sebanyak di Inggris.

Meski mengalami penurunan penjualan, para pedagang buku bekas tak memungkiri kalau omzet mereka masih cukup besar.

"Ya mungkin omzetnya cuma kalah sama jualan narkoba lah," kata Rico tergelak.[]

Sabtu, 12 April 2014

Om Tris

Jangan benci sesuatu terlalu berlebihan. Kelak, ia akan berbalik padamu.

Tante Syemim adalah ibu angkat saya. Ia kawan baik almarhum ayah semenjak SMA. Perkawanan itu berlanjut karena mereka mengajar di Universitas yang sama, Fakultas yang sama.

Saat ayah menikah dengan mamak, tante Syemim yang kala itu belum menikah turut senang. Apalagi waktu saya lahir. Ia sering menjaga dan menggendong. Perempuan berdarah Pakistan itu menganggap saya sebagai anaknya sendiri.

Sewaktu ulang tahun saya yang ketiga, atau keempat, tante Syemim membelikan saya dua hadiah. Kaos berwarna putih, dan satu buah walkman Sony. Ia datang ke Lumajang untuk menyerahkan hadiah itu. Setelah menyuruh saya memakai walkman, ia menyuruh saya bergaya. Lalu ia memotret. Foto itu lantas ia cetak dan ia pajang.

Walkman merk Sony itu masih saya pakai sampai SMP. Hingga akhirnya walkman itu rusak.

Tante Syemim termasuk terlambat menikah. Ia termasuk perempuan yang judes. Ia tak segan berdebat dengan pria. Entah apa itu yang membuat pria agak takut mendekat. Padahal tante Syemim baik sekali. Ia juga orang yang gampang menangis. 

Meski terlambat menikah, ia tak lantas menerima semua pinangan. Bahkan, dengan gagah ia mengajukan syarat. Menurutnya, syarat itu mutlak dipenuhi.

"Pokoknya aku gak mau punya suami yang lulusan IKIP. Juga gak mau punya suami tentara," katanya suatu ketika.

IKIP adalah singkatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Biasanya lulusannya jadi guru. Mengenai kebencian terhadap lulusan IKIP ini, saya tak pernah menanyakan kenapa. Namun tante Syemim punya alasan kenapa tak mau punya suami seorang tentara.

Tante Syemim benci kaum militer. Kebencian itu semakin menjadi sewaktu ia berurusan panjang nan pelik dengan kepolisian beberapa tahun silam.

Tapi tante Syemim kena batunya. 

Ia, suatu hari, berkenalan dengan pria bernama Soetrisno. Hari demi hari berjalan. Panah Cupid akhirnya melesat. Tapi tante Syemim harus gigit jari lebih dulu.

Soetrisno, pria gagah nan tegap itu, adalah lulusan IKIP dan pensiunan tentara...

Tapi toh akhirnya mereka menikah jua. Rasa benci toh melebur, hilang sama seali. Mereka menikah, kalau saya tak salah ingat, di pertengahan tahun 90-an. Cerita mengenai kebencian tante Syemim kepada lulusan IKIP dan tentara, hingga akhirnya mendapat jodoh dengan dua kriteria itu, jadi cerita yang melegenda. Terus diceritakan turun temurun. Tante Syemim hanya bisa tertawa kecut, selalu, waktu diingatkan kembali dengan cerita itu.

Kelak nanti saya juga akan menceritakan kisah unik itu kepada anak saya. Hehehe.

Tante Syemim menjalani pernikahan yang bahagia. Om Tris, begitu saya memanggil suaminya, merupakan penyangga bagi tante Syemim. Juga menjadi rem bagi tante Syemim yang ceplas ceplos. Om Tris sabar. Kalau bicara pelan. Sama sekali tak tampak ciri tentara yang biasanya garang. Ia merupakan peredam bagi tante Syemim yang keras. 

Selepas dari dinas militer, Om Tris  menjadi dosen di sebuah kampus swasta. Sewaktu menikah dengan tante Syemim, status Om adalah duda dengan dua anak: Mas Arik dan Mbak Dyah. Mereka lebih tua beberapa tahun di atas saya. Mereka juga saya anggap sebagai kakak sendiri.

Dulu sewaktu masih akhir SD dan awal SMP, nyaris setiap malam Minggu saya menginap di rumah tante Syemim yang jaraknya hanya sepenanakan nasi dari rumah saya. Malam hari biasanya kami sekeluarga keluar, cari makan malam bareng. Setelah di rumah, kami biasanya main kartu.

Namun semakin menginjak besar saya jarang ke rumah Tante Syemim. Apalagi menginap. Saya juga jarang bertemu Om Tris. Walau sesekali saya berkunjung ke rumah mereka.

Belakangan Om Tris sakit-sakitan. Umurnya memang sudah senja. Lepas 60 tahun. Terakhir saya bertemu dengan Om sewaktu saya pulang ke Jember beberapa hari lalu.

Om Tris tampak sehat, walau masih terlihat lemas. Rambutnya semakin menipis. Menyisakan beberapa helai rambut yang sudah memutih. Sakitnya beberapa kali kambuh. Sakitnya pun tak jelas. Ya semacam "sakit orang tua". Tiba-tiba kondisinya drop. Padahal tak ada penyebabnya.

Sewaktu saya datang, Om sedang makan siang.

"Ayo makan Ran, ada pepes ikan nih," katanya mengajak makan sembari lahap menyantap pepes ikan yang tampaknya lezat.

Siang itu saya datang untuk mengabari kalau saya akan menikah. Om Tris dan Tante Syemim sebenarnya sudah tahu kabar ini beberapa waktu lalu. Cuma karena saya sedang pulang, sekalian saja saya mengabari mereka langsung.

Mereka tampak bahagia sewaktu dengar kabar itu. Om Tris dan Tante Syemim termasuk dua orang awal yang mendampingi saya di masa berat sekitar dua tahun lalu. Saya juga dapat kabar gembira dari mereka. Tanggal 21 April ini mereka akan umroh bareng. Saya senang mendengarnya.

"Yang sehat ya Om," kata saya sembari memeluk Om Tris sewaktu saya berpamitan.

"Iya dong, sehat, insyaallah," katanya sembari tersenyum.

Keesokan hari, saya pulang ke Jakarta.

Sore ini Orin menelpon saya. Tak dinyana, kabar duka yang ia sampaikan.

"Om Tris meninggal," katanya pelan.

Saya terhenyak. Diam beberapa detik. Lalu bertanya meninggal kenapa. Orin tak tahu penyebabnya. Ia sedang di jalan, menuju rumah duka.

Saya menelpon tante Syemim. Tak kunjung diangkat. Beberapa belas menit kemudian, setelah Orin sudah di rumah duka, baru ia menyuruh saya menelpon.

Di ujung telepon, suara tante Syemim begitu menyayat hati. Ia setengah meraung. Seperti tak rela ditinggal Om Tris.

"Aku lagi masak, bolak balik ke dapur dan kamar. Lalu ternyata Om gak gerak," katanya sembari menangis keras. Hati saya teriris.

Saya cuma bisa bilang sabar. Berusaha menguatkan tante. Ia, sembari tetap menangis, mengatakan terima kasih. Hati saya macam diremas sarung tangan berduri. Saya ingat, sewaktu ayah masuk rumah sakit terakhir kalinya, om Tris dan tante Syemim turut menunggu di rumah sakit hingga tengah malam.

Om Tris meninggal dalam tidur. Oh sungguh cara meninggal yang tenang, adem, ayem, tentrem. Tak ada penyakit menjemput. Tak ada pula isyarat. Ia meninggal tanpa pamit. Hanya menyisakan kenangan baik, dan juga duka yang mengudara.

Selamat jalan Om Tris. Dari tanah kembali ke tanah. Sampai jumpa lagi, kelak...

Selasa, 08 April 2014

Martabak Malabar

Malam masih muda saat saya datang ke martabak Malabar. Orang Jember, nyaris sebagian besar, pasti tahu martabak yang terletak di Jalan Trunojoyo, atau lebih dikenal dengan sebutan Semar ini.

Warung martabak Malabar ini termasuk salah satu warung tua di Jember yang masih bertahan hingga sekarang. Usaha ini dimulai dari 1936, saat Habib Ahmad, imigran asal Pakistan, datang ke Jember dan memulai usaha ini di warung kecil di seputaran jalan yang sekarang dikenal sebagai daerah Jompo.

Saya pernah meliput martabak Malabar untuk majalah Tegalboto edisi Poskuliner, tahun 2009. Saat itulah saya berkenalan dengan Firman, pemegang tampuk imperium generasi keempat. Ternyata setelah sekian lama tak berkunjung ke warungnya, ia masih ingat saya.

"Kape nggawe majalah maneh ta mas?" tanyanya sembari tersenyum saat saya sedang takzim memotret ia yang menggoreng martabak.

Saya tertawa, sembari bilang bahwa ini buat dokumentasi saja.

Malam itu saya datang bareng Orin. Memesan martabak istimewa yang dibanderol 25 ribu rupiah. Harga paling mahal martabak ini cuma 30 ribu rupiah, untuk martabak super.

Aroma rempah khas India menyeruak memenuhi udara saat Firman mengaduk campuran telur, rajangan bawang daun, bumbu martabak, dan olahan daging sapi.

Martabak Malabar menarik karena cara pembuatan yang berbeda. Kalau di banyak martabak, caranya adalah membuat adonan berbentuk bulat, lalu menaruh isi di dalam adonan. Kemudian adonan itu dilipat hingga berbentuk amplop.

Malabar berbeda. Adonannya sama. Namun tuangan isinya meluber, tak menyisakan ruang untuk dilipat. Hasilnya, kulit martabak yang biasanya liat itu, tertutupi oleh lembut gurih rasa telur.


Selain itu yang menarik tentu bumbu-bumbu yang dipakai. Ada kapulaga. Jintan. Dan aneka macam bumbu khas masakan India, yang tak pernah disebut oleh Firman. "Rahasia perusahaan," katanya sembari terkekeh.

Saya punya banyak kenangan dengan martabak Malabar ini. Sewaktu saya masih SD, almarhum ayah sering mengajak makan di warung ini. Dulu tukang masaknya adalah Ainul Yakin, kakek mas Firman. Beliau biasa dipanggil Abah. 

Dulu, seingat saya, hanya ada tiga orang yang menjalankan usaha ini. Abah; sang anak perempuan Rug'ayah (ibunda Firman); dan satu orang lelaki paruh baya yang bertugas membuatkan minum.

Saya selalu suka melihat abah memasak. Lelaki keturunan Pakistan itu punya air muka yang meneduhkan. Meski jarang senyum, tetap saja auranya semacam beringin. Adem. Yang biasa mencatat pesanan adalah Rug'ayah. Cara ia meminta pesanan ke abah pun sangat sopan.

"Abah, tolong buatkan martabak spesial satu porsi ya, dan martabak biasa dua porsi." Abah kemudian tanpa isyarat, tanpa pertanda, langsung membuat pesanan.

Saya selalu tersenyum dan kemudian cerita mengenai cara mesan yang unik itu ke ayah. Saya merasa beruntung bisa mengalami martabak Malabar era Abah. Lengkap dengan suasana yang hangat.

Kenangan saya pada martabak ini sudah berusia lama, lintas generasi. Pasalnya, Mbah Co dan Mbah Ti (kakek nenek dari pihak ayah) kenal dengan Abah sejak berusia muda.

"Duh putune Karnati karo Warso, cek persise raine karo Karnati," kata abah suatu ketika pada saya. Karnati adalah nama lengkap Mbah Ti, sedangkan Warso yang dimaksud adalah Yamin Soewarso, kakek saya. Saya memanggil beliau dengan sebutan Mbah Co.

Saya lupa kapan Abah meninggal. Yang saya ingat, ayah mengabarkan kabar gelebah itu dengan masygul. Seakan saudara sendiri yang meninggal. 

Tapi setidaknya Abah sudah mendidik cucunya sendiri sebagai penerus yang bisa diandalkan. Firman mewarisi kecekatan yang sama dari Abah. Ia yang menghabiskan beberapa tahun jadi martabak apprentice dari sang kakek, sudah paham betul langkah yang harus ia lakukan.

Mulai dari takaran bumbu, hingga menggunakan sutil besi untul memotong martabak di atas penggorengan berbentuk bundar. Rasa martabak malabar generasi keempat ini juga tak berubah. 

Oh ya, sekedar informasi dan rekomendasi, martabak Malabar ini cocok sekali dicocol dengan bumbu sate. Silahkan pesan saja satu porsi bumbu sate, yang cuma dibanderol 2500 rupiah saja.

Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya pesanan tiba. Saat mau pulang, lelaki berusia baya yang bertugas membuatkan minum mencegat saya.

"Anake Akbar yo?" katanya sembari menjabat tangan saya.

Saya tersenyum senang, mengangguk. Sepertinya ia takjub melihat saya tumbuh besar. Terutama bagian perutnya. Hehehe. Saya dulu sering kesana waktu SD. Time flies, memang.

Perasaan-perasaan senang karena ada kenangan dalam makanan itulah yang membuat saya selalu menyempatkan diri ke warung-warung langganan ayah dan saya, terutama di Jember. Selain martabak Malabar, warung langganan ayah sejak dulu adalah nasi pecel Bu Darum.

Ayah bahkan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain petak umpet di dapur. Juga dengan iseng mencuil adonan bumbu pecel yang baru matang. 

"Dulu kalau ayah sakit, obatnya ya nasi pecel Bu Darum dan teh panas. Terus tidur selimutan. Pasti sembuh," kata ayah dulu. 

Sekarang, setiap saya pulang ke Jember, Bu Darum adalah salah satu warung yang tak pernah absen saya kunjungi. Warung yang terletak di ruas jalan Gajah Mada ini sekarang dipegang oleh sang cucu. 

Kenangan terhadap rasa masakan dan suasana sebuah rumah makan, apalagi jika dialami dalam waktu yang panjang dan sinambung, pasti akan menanamkan kesadaran tertentu. Tentang rasa rindu pada seseorang, atau sebuah kota, misalnya. Saya yakin hal itu terjadi pada banyak orang. 

Termasuk Michael Chiarello.

Michael adalah koki selebritas keturunan Italia. Ia yang lahir di Amerika, ternyata masih terikat erat dengan akar masakan leluhur. Selepas lulus dari  Culinary Institute of America pada tahun 1982, ia menjadi koki di banyak restoran. Ia mengambil spesialisasi masakan Calabria, suatu daerah di Selatan Italia, tempat nenek moyangnya berasal.

Hal itu didasari oleh kenangan kepada keluarga besarnya yang senantiasa memasak masakan Calabria di tiap pertemuan keluarga.

"Apa yang memotivasiku," kata Michael suatu ketika, "bukan hanya makanannya saja. Tapi ikatan dan kenangan yang dihadirkan oleh masakan itu."

Makanan memang sangat bisa disimbolkan sebagai cinta kasih yang kudus. Para tukang masak, mulai dari kelas ibu rumah tangga (Hai mamak, jagoan masakku sepanjang masa), sampai para koki profesional, selalu menaruh cinta dalam tiap masakannya. 

Percaya atau tidak, masakan yang dimasak dengan cinta dan yang tanpa cinta, akan terasa sangat berbeda.

Tak heran, George Bernard Shaw, sang pujangga dengan cambang yang tebal itu, suatu saat pernah berkata, "tak ada cinta yang lebih tulus ketimbang kecintaan terhadap makanan."

Ayah, mungkin mengamini dan mengamalkan itu. Ia menunjukkan rasa cintanya pada saya dengan cara menunjukkan bentuk cinta yang paling tulus itu: makanan.

Sejak kecil saya seringkali diajak ayah datang ke warung-warung langganannya. Mulai dari Jember, Lumajang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan di beberapa kota tempat ia hapal dimana makanan-makanan menggiurkan berumah.

Perjalanan demi perjalanan itu lantas membentuk suatu ikatan tak kasat mata. Ayah, yang sudah meninggal empat tahun lalu, seperti mewujud dalam setiap porsi nasi pecel Bu Darum di hadapan saya. Di setiap gigitan martabak Malabar. Atau di semangkuk soto Rambipuji yang mengepul. Juga diantara senyap jalanan dini hari selagi menunggu seporsi gudeg ceker Margoyudan. Juga dibalik cerita-cerita tentang ayah dari para penjual makanan itu. 

Ayah ternyata tak pernah benar-benar pergi.[]

Rabu, 02 April 2014

Nollywod dan Kebetulan Itu

Beberapa hal besar memang kadangkala dimulai dari suatu kebetulan.

Kenneth Nnebue adalah seorang pedagang biasa di pinggiran kota Onitsha, sebuah kota di tenggara Nigeria.

Kala itu ia punya stok kaset video kosong dalam jumlah besar. Pikirnya waktu itu, ketimbang menjual dalam keadaan kosongan, akan lebih menguntungkan bila ada sesuatu dalam kaset video itu. Maka ia iseng menulis film Living in Bondage yang lantas diproduksi langsung dari kamera video ke kaset video.

 
Sang Legenda

Film itu berkisah mengenai seorang lelaki yang mendapatkan kekuatan super dan kekayaan dengan cara membunuh sang istri dalam sebuah ritual. Sang istri kemudian menjadi arwah gentayangan dan menghantui sang suami sialan itu.

Tak dinyana, film ini laris keras. Setelah digandakan, film ini laku sebanyak 750.000 kopi. Tarikh menunjukkan angka 1992. Living in Bondage --dibuatkan film sekuelnya, walau tak selaris pendahulunya-- lantas menjadi pemicu derasnya industri film di Nigeria. 

Industri film di Nigeria yang dimulai dari suatu kebetulan itu lantas dikenal dengan sebutan Nollywood.

***

Tanpa banyak diketahui orang, Nollywood sudah menyalip Amerika Serikat dalam hal jumlah produksi film tahunan sejak tahun 2009. Berdasarkan survei dari UNESCO Institute for Statistic, industri film Nollywood berada pada posisi nomer dua, hanya kalah dari Bollywood, industri film di India.

Sepanjang rentang 2005 hingga 2009, Bollywood memproduksi rata-rata 1.178 film tiap tahun. Nollywood menyusul di belakangnya dengan produksi film berkisar 1.093 per tahun, jauh meninggalkan Hollywood yang hanya memproduksi 485 film tiap tahun.

Dalam sektor tenaga kerja, industri film Nigeria menyerap jutaan tenaga kerja. Terbanyak kedua setelah sektor pertanian. Berdasarkan penghitungan dari National Film and Video Censors Board Nigeria, industri film ini menghasilkan perputaran uang sebesar $200 juta hingga $300 juta tiap tahun.

Teco Benson, seorang produser dan sutradara asal Nigeria menyambut hal ini dengan gembira. "Ini adalah alat pemasaran baru Afrika!" tukasnya girang sembari menyebutkan bahwa Nollywood adalah industri adidaya nun digdaya dalam jagat film dunia.

Babad perfilman di Nigeria sebenarnya bukanlah cerita baru. Terhitung sudah sejak dekade 60-an, industri film Nigeria mulai menggeliat. Beberapa sineas awal seperti Ola Balogun sudah mulai memproduksi film yang lantas beredar lokal. Ola seringkali dianggap sebagai sineas gelombang awal Nollywood. Hingga akhirnya industri film Nigeria benar-benar meledak saat Living in Bondage muncul.

Sebenarnya agak sedikit mengejutkan bahwa industri film Nigeria, negara yang dikenal sebagai penghasil minyak, bisa berkembang sedemikian besar. Namun tentu ada faktor pemicu berkembangnya industri ini. Salah satu faktor utama adalah, para sineas Nigeria lebih memilih memakai kamera video biasa (dan sekarang memakai kamera digital) ketimbang memakai kamera 35mm yang umum dipakai untuk membuat film. Ini membuat ongkos produksi jauh lebih murah, sehingga film bisa diproduksi dengan mudah. Walaupun hasilnya seringkali dianggap sebagai kualitas gambar kelas kambing.

Faktor kedua adalah adanya layanan televisi berbayar MultiChoice, yang menyediakan empat saluran film, diputar selama 24 jam, yang khusus memutar film-film Afrika, kebanyakan adalah produksi Nigeria. Dua dari empat saluran ini memutar film dalam dua bahasa utama Nigeria, Yoruba dan Hausa.

Sedangkan di kawasan Afrika Tengah,  para pedagang keping film bajakan hanya menjual film Nollywood dalam rak film Afrika. Film Nollywood juga dialihbahasakan ke bahasa dan dialek lokal, yang membuat penyebarannya makin masif. Di Kamerun dan Gabon, bahasa Nigeria dialihbahasakan ke bahasa Perancis, bahasa utama di dua negara itu. Di Kongo, bahasa Nigeria disulihsuara ke dialek Lingala.

 
Penjaga Lapak VCD Bajakan di Lagos, Nigeria


"Nollywood jauh meninggalkan Hollywood," kata Barnabas Eset, yang sejak tahun 2000 menyewakan film Nollywood dan Hollywood di Gambia.

Faktor-faktor itu yang membuat Nollywood bisa berjaya di benua Afrika. "Orang Afrika lebih banyak menyaksikan film (produksi) Nollywood ketimbang Hollywood," cetus sutradara dan produser film lokal, Zeb Ejiro.

Meski demikian, suara sumbang toh tetap terdengar. Terutama berkaitan dengan kualitas film. Situs berita Independent menyebut film Nollywood sebagai film microwave, yakni film dengan masa pembuatan yang singkat, berkisar tiga hingga empat minggu. Ditambah dengan jalan cerita yang nyaris seragam dan seakan menggambarkan kondisi aktual Nigeria: korupsi, penipuan, peredaran narkotika, perdagangan manusia, cinta segitiga, juga dunia sihir, dan hampir semua berakhir bahagia. Dengan kata lain: Nollywood besar kuantitas, namun nihil dalam pencapaian kualitas.

Tapi Obi Emelonye berusaha mengubah citra negatif macam itu.

Obi, sutradara kelahiran Nigeria berumur 47 tahun, seringkali dianggap sebagai wajah baru Nollywood. Pada tahun 2011, sutradara yang juga pengacara ini menulis dan menyutradarai The Mirror Boy, sebuah film drama fantasi yang berkisah tentang seorang bocah Afrika-Inggris yang hilang di tengah belantara rimba Afrika. Film ini berhasil mendapatkan 3 nominasi di African Movie Academy Award, ajang penghargaan tertinggi untuk film di jazirah Afrika.

Obi adalah sutradara yang visioner. Ia menerabas semua pakem film Nollywood. Ia memakai anggaran dana besar, menulis jalan cerita yang tak umum di Nigeria, memakai artis luar negeri, hingga menghasilkan gambar dengan kualitas jempolan. Tujuannya jelas: menarget penonton global.

Tapi jalan menuju ke sana memang tak mudah. Masalah klasik macam birokrasi berbelit selalu menghadang.

"Tantangan terbesarnya adalah bernegosiasi dengan para birokrat, itu benar-benar mimpi buruk," kata Obi dalam wawancara dengan situs berita Business Day.

Pada tahun 2013, Obi menggarap film Last Flight to Abuja, film thriller yang diadaptasi dari kisah nyata, berkisah tentang pendaratan darurat pesawat Flamingo Airways. Dengan biaya sekitar $ 250 ribu --enam kali anggaran normal film Nigeria-- Film ini mendapatkan pemasukan $ 350 ribu, menjadi film dengan jumlah pendapatan terbesar di seluruh Afrika Barat pada tahun 2012. Last Flight bahkan ditayangkan hingga London. Namun besar pendapatan juga berbanding lurus dengan besaran suapnya.

"Setiap hari, saya harus memberi uang kepada pihak berwenang agar bisa terus mengambil gambar," keluh Obi.

Namun Obi tak bergerak sendirian. Banyak sutradara muda yang ikut turun gelanggang demi mengubah citra negatif Nollywood. Salah satunya adalah Biyi Bandele.

Biyi adalah salah satu sutradara muda Nigeria yang juga digadang-gadang bisa mengubah wajah kelam industri film Nigeria. Ia termasuk sutradara "sekolahan". Ia pernah mempelajari drama di Universitas Obafemi Awolowo. Anak dari seorang veteran perang Burma ini juga pernah memenangkan kompetisi International Student Playscript pada tahun 1989. Setahun kemudian Biyi pindah ke London.

Pada tahun 1994, Biyi memenangkan penghargaan Best New Play di Festival London New Plays lewat naskahnya Two Horsemen. Sejak saat itu, karirnya menanjak. Pada tahun 2000, Biyi tercatat sebagai penerima beasiswa doktoral Judith E. Wilson di Universitas Cambridge.

Pada tahun 2013, Pria kelahiran Kafanchan, daerah di Utara Nigeria,  menyutradarai Half of Yellow Sun. Ini adalah film yang diadaptasi dari novel terkenal berjudul sama karya dari penulis Chimamanda Ngozi Adichie.

Film ini dengan gagah memajang Chiwetel Ejiofor (nominator Oscar dan Golden Globe), dan Thandie Newton yang pernah bermain dalam film semacam The Pursuit of Happyness dan Mission: Impossible II. Film ini konon menelan biaya hingga $ 8 juta, yang membuatnya dinobatkan sebagai film Nollywood termahal sepanjang sejarah.

Film ini sudah diputar perdana dalam ajang Toronto's International Film Festival 2013. Film ini akan serentak diputar di seluruh dunia pada awal April 2014. Biyi sang sutradara berharap film ini akan mengubah kemudi Nollywood ke arah yang lebih baik.


"Masa depan film Nigeria sangat bagus. Ada banyak pembuat film muda di Nigeria. Beberapa tumbuh dengan tradisi Nollywood, yang lain adalah hasil dari sekolah film. Dan kita hanya tinggal memadukan bakat macam itu, dan saya tidak sabar menunggu hasilnya," pungkasnya. []