Rabu, 19 Maret 2014

Java Jazz Dalam Perbincangan

Indra Lesmana feat Maurice Brown
Foto: Andrey Gromico

26 Februari 2014. Hujan baru saja berhenti. Peter Gontha sedang sumringah sore itu. Dengan baju batik berwarna putih gading, ia dengan gagah berdiri di atas podium. Sang impresario media itu ingin menyampaikan satu dua patah kalimat menyambut pagelaran ke sepuluh Java Jazz Festival, festival musik yang ia inisiasi pada tahun 2005.

"Pada tahun ini, untuk pertama kalinya kami berganti sponsor," kata Gontha menyampaikan hal pahit dengan tersenyum.

Java Jazz Festival merupakan salah satu ajang yang terkena imbas dari Peraturan Pemerintah No.109 Tahun 2012,  tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Salah satu pasalnya adalah melarang produk rokok menjadi sponsor untuk semua acara. Acara-acara musik menjadi salah satu yang terkena dampak paling besar dari aturan ini.

"40% kebutuhan dana penyelenggaraan acara tersebut (Java Jazz), didapat dari industri rokok, selebihnya ditutup oleh industri lain," kata Dewi Gontha, Direktur Utama PT Java Festival Production, penyelenggara Java Jazz, dalam sebuah diskusi di Rolling Stone Cafe, satu tahun silam.

Industri rokok memang sudah menjadi sponsor utama sejak pagelaran Java Jazz pertama pada tahun 2005. Pihak Java Production selaku event organizer Java Jazz, tentu kelimpungan mencari sponsor pengganti yang mau menjadi sponsor utama dalam pagelaran kelas dunia itu. Karena hal itu tidak mudah, tentu saja.

"Pada tahun ini kita banyak mengalami kendala, karena sponsor-sponsor yang besar sudah tidak diperkenankan lagi menjadi sponsor. Tapi pada saat terakhir kami dibantu oleh grup M dan satu advertising agency yang sangat besar," kata Peter sembari tersenyum tanpa menyebutkan nama perusahaan yang membantu Java Jazz itu.

Lalu pada menit-menit terakhir, sebuah produk shampo dari perusahaan besar dunia, mengajukan diri jadi sponsor. Tercapai kesepakatan, hingga nama produk shampo itu menjadi title sponsor Java Jazz.

Di atas podium itu, Peter sempat menerawang. Ia mengingat kembali masa-masa awal ia menggelar Java Jazz pada tahun 2005. Saat itu, pria berkepala plontos ini, geram sekaligus sedih karena Indonesia dikenai travel warning dari banyak negara. Penyebabnya karena ada bom di Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004. Ledakan ini menewaskan 5 orang dan ratusan korban luka. Hal itu masih ditambah dengan akumulasi ketakutan karena rangkaian bom banyak menimpa Indonesia sejak tahun 2000. Sejak itu, citra Indonesia tercoreng di mata dunia. Indonesia dianggap sebagai negara teroris. Dunia pariwisata mendapat pukulan yang sangat telak.

"Saat itu, okupansi hotel itu cuma 2-3% saja. Jadi itu merupakan hal yang sangat menyedihkan," kata Peter.

Akhirnya Peter memiliki ide untuk menggelar Java Jazz Festival dengan motto yang sangat menggugah: bringing the world to Indonesia. "Kita katakan, not what the country can do for us, but what we can do for the country."

Peter bukan tanpa sebab menggelar festival jazz. Pendiri Rajawali Citra Televisi Indonesia ini memang dikenal sebagai penggila jazz. Ayah Peter adalah Willem Gontha, pemain trumpet yang mendirikan band jazz yang juga beranggotakan Bubi Chen dan Jack Lesmana. Big band ini menjadi band perusahaan minyak terkemuka di Surabaya. Saat sang ayah dan kawan-kawannya menjalani tur, Peter seringkali ikut serta dalam rombongan. Menaiki kereta, singgah dari satu kota ke kota lain.

Karena besar dalam lingkungan yang mencintai jazz, Peter pun turut jatuh cinta dengan musik yang identik dengan kebebasan berekspresi ini. Peter juga punya Kafe Jams, kafe yang sering dijadikan tempat bermain para musisi jazz internasional, seperti Lee Ritenour, Chick Corea, dan George Duke.

Peter sebenarnya sudah mulai membuat festival jazz bernama Jak Jazz pada tahun 1987. Ia membuat Jak Jazz karena terkesan dengan pengalaman menonton North Sea Jazz, sebuah festival jazz di Belanda. Jak Jazz ini berlangsung rutin hingga berhenti di tahun 1997 karena Indonesia terhantam krisis moneter.

Tapi cinta Peter pada musik jazz tak lantas berhenti. Pada tahun 2005, dengan panji PT Java Festival Production, akhirnya Peter pun menggelar Java Jazz untuk pertama kalinya. Peter tak sendirian dalam mengerjakan even kelas dunia ini. Ia banyak dibantu oleh Dewi Gontha Sulisto, putrinya yang kala itu menjabat sebagai production and marketing director. Sekarang, Dewi sudah menjabat sebagai direktur utama PT Java Festival Production.

"Terus terang saja, saya mohon dengan hormat, bukan saya (yang mengerjakan Java Jazz). Wartawan selalu mengutip saya, padahal saya sudah tidak ngapa-ngapain lagi. Tahun lalu saya sudah menyampaikan mundur (dari Java Festival Production)," kata Peter sembari melirik ke Dewi, sang anak yang sore itu juga hadir di konfrensi pers. Dewi tersenyum.

Pagelaran perdana Java Jazz mengundang the king of soul, James Brown, sebagai penampil utama. Orang-orang terhenyak, sang legenda itu mau datang dan tampil di festival jazz debutan, yang diadakan di negara yang kala itu dihantam isu terorisme dan flu burung.

"James Brown has really made Java Jazz. Begitu banyak artis datang karena James Brown. Mereka lupa bahwa James Brown adalah preman. Berani dia," kata Peter dalam sebuah wawancara eksklusif dengan majalah Rolling Stone Indonesia. Setelah kedatangan James Brown, keran kedatangan musisi luar negeri pun terbuka. Banyak musisi terkenal luar negeri mau tampil. Mulai dari Santana, Brian McKnight, Sergio Mendes, Ron King Big Band, Chaka Kan, The Manhattan Transfer, Tony Braxton, Sondre Lerche, John Scofield, Stevie Wonder, Jamie Cullum, hingga India Arie.

Dulu, agak susah membayangkan Java Jazz bisa menjadi festival jazz terbesar di dunia dengan jejeran line up yang megah. Karena para orang asing sempat takut datang ke Indonesia karena citranya yang menyeramkan. “Banyak yang takut: nyamuk, demam berdarah, dengue fever, flu burung, tsunami, gempa, terorisme,” kata Peter dalam wawancaranya dengan Rolling Stone Indonesia.

Tapi sekarang Java Jazz sekarang sudah menjadi festival yang berskala gigantis. Pada tahun 2010 misalnya. Java Jazz menampilkan lebih dari 1500 musisi asing dan Indonesia. Mereka bermain di 21 panggung, selama 3 hari penyelenggaraan. Tahun itu, Java Jazz dikunjungi oleh 105.000 penonton, baik dalam maupun luar negeri. Hal ini membuat Java Jazz menjadi festival jazz terbesar di dunia dalam hal jumlah musisi dan jumlah panggung.

"Dan tentunya tahun ini banyak pengunjung yang banyak dan bintang jazz dan artis terkenal yang bisa hadir, mengharumkan nama Indonesia," kata Marie Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada jumpa pers Java Jazz 2014.

Saat ini memang industri musik dimasukkan dalam agenda ekonomi kreatif. Pasalnya jelas, industri musik menghasilkan perputaran uang yang sangat besar. Industri musik dalam bentuk pariwisata, seperti konser dan festival musik, juga memberikan pemasukan yang besar bagi negara. Marie pernah mengatakan bahwa terjadi peningkatan wisman sebanyak 30 persen jika ada konser ataupun festival musik di Indonesia. Jumlah wisman ini kebanyakan datang dari negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Hongkong.

"Sebagai salah satu industri kreatif di Indonesia, (industri musik) sumbangannya 5,2 trilyun di 2013," tutur Marie.

"Tadi saya bertanya pada Dewi, ekspektasi penonton tahun ini 120.000, lima persennya dari luar negeri. 20 persen penonton dari luar Jakarta," sambung Marie sembari sumringah.

***
Agus Setiawan Basuni duduk di ruang kerjanya yang penuh buku, tumpukan kertas, dan cakram padat. Ia dengan takzim menghadap komputer jinjingnya. “Saya lagi ngurus persiapan ke Korea nih,” katanya sembari tersenyum dan memandangi lembar kertas yang ada di tangannya dan mengetikkan sesuatu.

Agus pada tahun 2000 mendirikan Wartajazz, sebuah komunitas yang ia sebut sebagai "ekosistem untuk musik jazz di Indonesia." Pengalamannya di dunia jazz Indonesia sangat panjang. Ia pernah mengadakan Bali Jazz Festival, Ramadhan Jazz Festival, hingga menginisiasi Ngayogjazz Festival di Yogyakarta bersama Djaduk Ferianto dan Komunitas Jazz Yogyakarta. Pria kelahiran 22 Agustus 1975 ini juga pernah meliput berbagai festival jazz di seluruh dunia. Mulai dari Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, hingga Chicago Blues Festival.

Wartajazz juga rutin menjadi media partner Java Jazz, dan Agus tak pernah sekalipun absen meliputnya selama 10 tahun penyelengaraan. Dalam pandangan Agus, Java Jazz hadir di saat yang tepat.

"Sepuluh tahun lalu, kita sudah mulai mendekati situasi dimana sebagian masyarakat kita, terutama yang di perkotaan, adalah masyarakat yang terdidik. Dalam artian, mereka bisa dapat informasi sendiri tanpa harus tergantung pada media massa konvensional," kata Agus.

Menurutnya, generasi melek media yang haus informasi, ditambah dengan anak-anak muda yang melek musik, adalah kombinasi yang jumlahnya relatif cukup banyak. Mereka adalah faktor yang membuat Java Jazz menjadi berkembang.

"Selain itu, juga ada kerinduan terhadap even berskala besar, Java Jazz waktu itu ada 12 panggung," lanjutnya.

Java Jazz termasuk festival yang berkembang dengan cepat dan pesat. Menurut Agus, hal itu bisa terjadi karena Java Jazz pandai menyisipkan gimmick di setiap penyelenggaraannya. "Dalam hal ini, selalu ada bintang," sembari menyebutkan nama James Brown yang hadir pada tahun 2005, "regardless dia jazz atau bukan, saya mesti lihat sebelum meninggal, itu analoginya."

Java Jazz bukan satu dua kali saja dikritik karena menampilkan bintang tamu di luar pakem musik jazz. Tahun ini kontroversi besar merebak seiring diundangnya Agnez Mo (dulu dikenal dengan nama Agnes Monica), dan girlband JKT48. Kritiknya adalah: dimana letak jazz-nya mereka? Hal ini sebenarnya bukan hal baru. Tiap festival, apapun jenis musiknya, pasti menghadirkan bintang tamu yang keluar pakem.

Montreux Jazz Festival, misalnya. Salah satu festival jazz terbesar dan terpopuler di dunia ini pada tahun 2013 mengundang band rock Black Rebel Motorcycle Club, juga band punk  rock Green Day, hingga Brian May dan Deep Purple. Apakah mereka musisi jazz? Tentu bukan.

Yang patut diingat: festival musik adalah sebuah industri. Dan industri harus menghasilkan laba untuk bisa terus berputar. Dalam industri festival musik macam Java Jazz, mengundang hanya musisi jazz saja tentu bukan keputusan bijak. Pasti ada beberapa pertimbangan. Dari obrolan singkat dengan Eq Puradiredja yang menjabat sebagai  Program and Artist Relation Java Jazz, ada beberapa pertimbangan untuk mengundang bintang tamu. 

"Ada jazz name, legend name, popular name, dan lain sebagainya," katanya dalam konfrensi pers Java Jazz 2014. Agnez Mo dan JKT48 adalah nama yang mewakili popular name

Memang sudah sejak lama, ada dikotomi mengenai jazz. Agus menekankan bahwa kebanyakan orang heran kenapa musik jazz bisa berkembang. Padahal sebenarnya tak usah heran kalau jazz bisa berkembang di Indonesia. Sejak dulu, menurut Agus, media sudah terlanjur menyebarkan stigma bahwa musik jazz adalah musik kelas atas, musik yang susah dimengerti. Sehingga orang-orang berpikiran kalau jazz akan susah berkembang jadi besar dan jadi musik yang digemari khalayak ramai.

"Padahal, jangan lupa, jazz pernah jadi musik yang sangat populer. Itu era 30-40an. Semua lantai dansa ya musik swing. Musik pop, dalam artian musik populer, ya jazz, swing," kata Agus.

Karena semua kombinasi di atas itulah, Java Jazz, menurut Agus, bisa berkembang. Meski begitu, Agus tak serta merta terus memuji. Menurut Agus, "mereka (Java Jazz) lebih banyak menampilkan para musisi yang 'hits di zamannya'," sembari menuturkan musisi-musisi yang tenar di era 80-an seperti George Benson tapi masih bermain di Java Jazz.

"Band yang diundang Java Jazz harusnya juga aktual. Jangan sampai ada pikiran, 'band ini karya terakhirnya kapan, karya terakhirnya sepuluh tahun lalu'" ujarnya.

"Tapi jangan lupa, penonton mau membayar itu," sambungnya cepat sembari menyebut penonton yang menunggu George Benson menyanyikan "Nothing Gonna Change My Love For You"; juga Lee Ritenour memainkan "Captain Finger"; hingga Bob James dengan lagu "Restoration"; dimana itu lagu-lagu yang hits tiga dekade lalu.

Meski begitu, Agus tetap berbangga bahwa Java Jazz, jika merujuk pada jumlah penonton, adalah festival jazz terbesar nomer dua di Asia, setelah Jarasum International Jazz Festival di Korea. "Namun kalau soal jumlah panggung, Java Jazz nomer satu di Asia," kata Agus.

Memperingati satu dekade Java Jazz, Agus dengan semangat mengatakan kalau Java Jazz tak boleh berhenti. "Jadi hakikatnya bukan soal sepuluh tahunnya. Tapi bahwa soal jazz itu harus terus menerus. Jazz itu, seperti musiknya, tak pernah berhenti," katanya sembari memandang layar monitor komputer jinjingnya.

"Jadi festivalnya tak boleh berhenti, apapun kendala yang mereka hadapi, harus tetap ada. Entah nanti misalnya karena kesulitan sponsor, lalu panggungnya dikurangi, ya gak masalah. Tapi harus tetap ada," lanjutnya.

Sore semakin tua. Agus membereskan beberapa barang. Ia ada janji dengan seorang kawan selepas pukul 5 sore. Sebelum pergi, ia berkata lagi.

"Kata kuncinya cuma dua: konsisten dan kontinyu. Konsisten untuk kontinyu, dan kontinyu untuk konsisten." []

Post-scriptum: Terima kasih buat mbak Wening Gitomaryo yang memberikan file wawancara eksklusif RSI dengan Peter Gontha. Makasih mb, hhe...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar