Sabtu, 14 Januari 2012

Hamburg Part 1: The Beatles Were Here!

Kanal, pasar loak, distrik merah, dan kisah-kisah grup musik legendaris asal Inggris. 
Hamburg menawarkan sensasi city tour yang sulit ditemukan tandingannya di Jerman.
Inilah pesona kota pelabuhan di utara Jerman.

***

Baru saja saya keluar dari stasiun bawah tanah St.Pauli, seorang pemuda setengah mabuk menghampiri. “The Beatles masih hidup Bung!” katanya sambil melenggang pergi. Saya tak mengerti apa maksudnya, sebab grup musik kondang itu sudah bubar sejak 1970. Seolah bisa membaca pertanyaan saya, si pemuda tadi menoleh, lalu mengatakan: “Di Hamburg Bung.”

Ia setengah mabuk, tapi tidak setengah gila. Kata-katanya ada benarnya. The Beatles, band legendaris asal Liverpool, sempat berlabuh di Hamburg sebelum kemudian merajai dunia. John Lennon dan kawan-kawan eksodus ke Hamburg pada 1960, saat kota pelabuhan di utara Jerman ini sedang giat berbenah selepas Perang Dunia II. Banyak pengamat musik bahkan mengklaim justru Hamburg, dan bukan Liverpool, yang berperan dalam membentuk karakter musik The Beatles. Dan di kota ini pula John, Paul McCartney, serta George Harrison, pertama kalinya bertemu Ringo Starr sang penabuh drum.

Pangsa pasar utama The Beatles adalah kaum pelaut yang haus hiburan usai menjelajahi samudra. Mereka biasa manggung di distrik St. Pauli yang mengoleksi beragam klub malam, diskotek, juga kasino. Layaknya grup perantauan yang sedang membangun reputasi, The Beatles rajin tampil di banyak tempat, mulai dari yang terkenal seperti Kaiserkeller, Top Ten, dan Mambo, hingga klub kecil semacam Indra, Chugs, dan Sacha’s.

The Beatles memang sudah bubar, tapi Hamburg belum merelakannya pergi. Di St. Pauli, persisnya di persimpangan Reeperbahn dan Große Freiheit, terdapat tempat wisatapopuler bernama Beatles-Platz. Daya tarik utamanya adalah patung-patung para personel The Beatles. Tak jauh dari Beatles-Platz ada Beatlemania Hamburg Museum (www.beatlemania-hamburg.com) yang dibangun pada 2009 dan menyimpan memorabilia seputar The Beatles, terutama dari masa-masa awalnya meretas karir di Hamburg. Beatlemania Museum mematok tarif masuk 12 Euro (setara Rp145 ribu). Usai membeli tiket, saya menerima“The Beatles Passport” berwarna cokelat yang memuat data pribadi saya.


Tur dimulai di lantai paling atas yang diberi nama “Port of Entry”. Area ini seolah menarik saya setengah abad ke belakang. Koleksinya mencakup data pribadi para personel The Beatles, artefak klub-klub di Hamburg yang pernah menampilkannya, hingga koleksi video yang dapat diputar menggunakan kartu khusus. Lantai empat yang tak kalah atraktif memajang beragam instrumen musik, amplifier, kostum, hingga ruang karaoke kecil. Dindingnya dihiasi foto-foto keseharian The Beatles yang sebagian diambil oleh fotografer Klaus Voorman. Lantai tiga menampilkan replika interior kapal selam yang diberi tajuk“Yellow Submarine” (judul album yang dirilis pada 1969), sementara lantai dua cenderung mengeksplorasi sisi musikalitas The Beatles.

Port Entry

Replika Jejeran Klub Malam

Tembok Coretan


Replika Drum dan Gitar The Beatles

 


The Beatles Ketika Masih Berlima




Yellow Submarine
 

Semua kenangan itu tak cuma bisa dilihat, tapi juga dibawa pulang dalam bentuk cenderamata. Di lantai dasar terdapat toko suvenir yang menjajakan pernak-pernik bertema The Beatles, mulai dari kaus, syal, cangkir, piring, poster, kalender, hingga cakram digital. Tur ziarah menggali memori The Beatles di museum telah memikat banyak orang dari penjuru bumi. Bersama saya, hadir pengunjung dari kota-kota di Jerman seperti Munich dan Bremen, serta dari luar negeri seperti Belgia dan Swiss. Wajah-wajah mereka umumnya terlihat antusias. Ucapan si pemuda mabuk di gerbang stasiun kian terasa kebenarannya.

Di Hamburg, The Beatles memang masih hidup...

(Bersambung)

5 komentar:

  1. Yang saya tahu dari Hamburg hanya klub sepakbolanya. Hamburg SV. Itupun dari tipi. Dahulu sekali saat Bundesliga hadir di RCTI. Saya meng-idolakan penyerangnya yang berkebangsaan Jepang. Naohiro Takahara,-sekitar tahun 2004-an. Saat ini juga ada Nistelroy.

    Mbok ya sekali-kali nulis tentang sepakbolanya mas. hehehe. Berharap sih, bukan Munchen. Tapi Herta Berlin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti ada cerita lanjutannya, tenang aja :D Soal suporter klub St. Pauli. Kalau di Hamburg, St.Pauli lebih terkenal ketimbang Hamburg FC. Mereka tim sekota, tapi lebih terkenal St.Pauli, apalagi barisan suporternya :D

      Hapus
  2. nuran lho memicu iri level 4.

    BalasHapus
  3. sedikit banyaknya sudah memberikan informasi mengenai band hebat ini terlepas dari jeratan wikipedia.muantep mas!

    BalasHapus