Rabu, 28 September 2011

Hair Metal, Grunge, dan Perbincangan Yang Tak Akan Pernah Usai



Kalau boleh memaki, bolehlah saya memaki karena dilahirkan di masa yang salah. Karena lahir di masa yang salah pula, saya merasa tumbuh besar di masa yang salah.
Saya tumbuh besar ketika riuh rendah rock ‘n roll sudah mereda. Bayangkan, ketikaAppetite for Destruction dirilis, saya bahkan belum lahir. Ketika Nevermind dirilis (yang konon merupakan representasi generasi X), saya baru saja berumur 4 tahun. Saat itu jelas saya tak bisa tahu apa itu Appetite, Nevermind, Axl, Cobain, hair metal, atau apa pula itu generasi X berserta kemarahan serta keapatisannya.
Jadi sebenarnya saya tak punya kepentingan apapun terhadap dua jenis kutub musik yang berbeda itu. Walau kenyataannya saya jelas lebih suka hair metal. Tapi sekarang saya berusaha membandingkan dua magnum opus dari dua masa yang berbeda itu secara seimbang.
Dalam buku berjudul Fargo Rock City, kritikus Chuck Klosterman, pernah melakukan usaha yang sama dengan yang saya lakukan. Chuck (meski ia juga penggemar hair metal) secara berhati besar mengatakan bahwa dampak sosio kultural yang disebabkan oleh Nevermindsedikit lebih besar ketimbang Appetite. Chuck bisa objektif dan tegas menyatakan fakta itu karena ia tumbuh besar dan mengalami sendiri dua periode yang jauh berbeda: kejayaan dan kejatuhan hair metal, serta kelahiran dan kematian instan grunge.


Sedang saya? Bahkan ketika saya mimpi basah untuk pertama kalinya, MTV sudah sangat membusuk kronis dan sebagian dunia hanya mengingat Cobain dan Smells Like Teen Spirit(serta nyaris melupakan siapa itu Krist Novoselic, juga ada album bertajuk In Utero).



Ketika membandingkan dua album maha dahsyat ini, susah untuk tidak berbicara mengenai bangunan keseluruhan album.



Appetite dibangun oleh riff gitar blues yang dibawa oleh Slash, pengaruh punk yang dibawa bassist asal Seattle Duff McKagan, kocokan gitar ala Stones oleh Izzy Stradlin, serta ketukan simple nan bertenaga yang dibawa oleh Steven Adler. Axl Rose sang mastermind Guns ‘N Roses menulis lirik dengan tema beragam. Mulai ganasnya hidup jalanan di “Welcome to the Jungle”, perempuan binal di “My Michelle”, narkoba di “Mr. Brownstone”, tempat utopis “Paradise City”, cinta “Sweet Child O Mine”, hingga kisah asmara yang bagai kutub utara dan selatan “Rocket Queen”. Axl menulis lirik tidak sendirian. Beberapa anggota lain juga ikut urun sumbangsih terhadap pembuatan lagu.



Sedang Nevermind dibangun oleh permainan distorsi yang dibawa oleh Cobain, permainan bass yang rapat oleh Krist, serta ketukan bertenaga oleh Dave. Sedang tema yang dibawa oleh Nevermind pun beragam, namun hanya terdiri satu warna: kemarahan Gen X.



Namun, sampai saat ini, saya berfikir bahwa secara kualitas album, Appetite lebih unggul. Sekali lagi ini penilaian subjektif. Anda setuju, alhamdulillah sesuatu banget bagi saya. Kalau anda tidak setuju, apa peduli saya? Tulis versi anda sendiri.



"Perbedaan dari kedua album itu adalah Appetite selalu menjadi tour de force dan sebuah mahakarya classic rock, sedang Nevermind akan selamanya dianggap sebagai kendaraan untuk “Smells Like Teen Spirit”, juga pengaruhnya terhadap kultur mainstream," Demikian kesimpulan Chuck Klosterman pada review pendek mengenai dua album tersebut.



Saya tidak bisa untuk tidak setuju.



Guns N Roses memperlihatkan musikalitas yang jempolan. Jauh meninggalkan semua band hair metal seangkatannya. Tema penulisan Axl begitu luas. Ia bisa menuliskan lirik gelap, pahit, manis, dan bahkan romantis. Izzy dan Slash juga pandai menciptakan musik yang melodius. Yang membuat saya menilai album Appetite lebih unggul ketimbang Nevermindadalah kerja band secara keseluruhan. Appetite digarap keroyokan, semua anggota punya andil pada tiap lagu. Sedang Nevermind, nyaris semua lagu ditulis oleh Cobain. Dari fakta ini, jelas Guns N Roses lebih unggul sebagai sebuah grup band, ketimbang Nirvana yang nyaris seperti one man show.



Namun (meski kalah jauh soal kualitas), bagi sebagian besar orang, Nevermind memiliki pengaruh kultural yang lebih besar. Iya, sebagian besar, tidak semua orang. Meskipun kelak semua orang mengaku hidupnya berubah gara-gara Nevermind, saya tidak demikian adanya.



Nevermind seakan menjadi representasi kokoh mengenai kemarahan, kegalauan, depresi,angst, atau apapun itu istilah yang berkaitan dengan kelabilan kondisi jiwa. Karena itu pula banyak fans Nirvana mengaku mendengarkan Nevermind (dan konon hidup mereka berubah) ketika memasuki fase remaja, masa pencarian jati diri yang konon dipenuhi oleh rasa marah, galau, serta apatis terhadap apapun. Generasi yang oleh Robert Capa disebut dengan Generasi X, generasi yang lahir karena “ketidakpastian masa datang akibat kompetisi bebas di dunia yang tidak lagi bersekat dan menganut nilai absolut.”



Ya, Nevermind lahir di saat yang tepat.



Sedang Appetite boleh dibilang apes karena harus lahir ketika sebagian besar manusia di bumi terjangkit demam hair metal. Iya, sebagian besar. Karena ada sebagian kecil manusia berpengaruh yang disebut kritikus, yang sudah terlampau muak terhadap sub kultur yang dianggap murahan dan sapi perah industri musik itu. Mereka beranggapan bahwa apapun yang berasal dari skena hair metal adalah busuk adanya.



Sekeras apapun saya berargumen kalau “Shout at the Devil” itu album keren dan pantas masuk dalam daftar 500 Album Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Amerika Serikat, atau “Slippery When Wet” itu album jenius, meskipun dunia tidak akan pernah setuju dengan saya. Apalagi para music snob yang terlalu sibuk mencari lagu apa yang paling aneh, paling panjang durasinya, paling susah diterima kuping, yang nantinya akan digelari musik keren, atau cult.



Untung saja Appetite "terlalu menonjol" dibandingkan album hair metal lainnya. Jadi ia masuk radar para kritikus musik. Pun, kualitas musiknya sangat mencengangkan. Walau sekali lagi, dampak kulturalnya tak sebesar yang dihasilkan oleh Nevermind kelak. Dan ya, saya mengakui itu.



Beban Yang Tak Terbagi



Pada akhirnya, ada satu lagi perbedaan besar pada generasi hair metal dan grunge. Hair metal adalah sebuah skena besar yang saat itu tak dilambangkan oleh wakil tunggal. Hair metal punya Guns N Roses, Motley Crue, Poison, Quiet Riot, Cinderella, dan juga Skid Row. Posisi mereka seimbang, sama kuat, dan sama-sama punya basis fans yang kuat. Baik di kalangan fans biasa, maupun di kalangan industri.



Sedang grunge? Entah kenapa saya merasa seluruh beban suara Generasi X hanya dipanggul oleh Nirvana sendiri. Dan itu sungguh sangat berat. Bagi saya, tak ada band grunge yang memiliki kharisma serta berpengaruh sebesar Nirvana. Karena tak ada band yang sepadan dengannya, beban cultural, sosial, atau bahkan ideologi grunge (yang ironisnya belum sempat selesai "dirumuskan" karena Cobain keburu tewas), hanya dipanggul oleh Nirvana. Beban yang terlampau berat itu pada akhirnya membuat Cobain memutuskan untuk menarik pelatuk pistol, mencerabut nyawanya sendiri, dan yang paling ironis, mencabut nyawa skena grunge secara keseluruhan.



Bahkan beban yang tak terbagi itu tampak dalam album Nevermind. Disana, nyaris semua lagu dibuat oleh Cobain. Hanya ada dua lagu yang ditulis bareng dengan Krist dan Dave (“Smells Like Teen Spirit” dan “Endless,Nameless”).



Sekali lagi, beban yang tak terbagi ini membuat Nirvana sebagai "satu-satunya" band grunge yang terpantau oleh industri. Pearl Jam? Bahkan Eddie Vedder seringkali marah kalau disebut band grunge. Juga jarang sekali ada orang awam macam saya yang tahu Melvins, Tad, Mudhoney, atau band-band yang muncul di Hype! Karena itu pula, ketika sang perwakilan tunggal bernama Nirvana bubar seiring tewasnya Cobain, maka ikut mati pula seluruh skena grunge.



Grunge dan Hal Yang Tak Pernah Selesai Lainnya



Perbincangan, glorifikasi, atau nostalgia terhadap genre musik bukan sesuatu yang baru. Ia tak akan pernah selesai diperbincangkan, sama seperti agama atau tuhan. Bahkan setelah 20 tahun, “Nevermind” masih saja diperbincangkan. Bahkan dibuatkan perayaan. Pada akhirnya, baik Guns N Roses maupun Nirvana adalah dua band yang sangat mewakili semangat zaman masing-masing. Zaman yang sama sekali bertolak belakang. Yang membuat Guns dan Nirvana melakukan “kampanye generasi” dengan cara yang berbeda.


Guns adalah tipikal pemuda generasi 80-an, yang bandel dan pemberontak, tapi juga sangat gemar bersenang-senang. Sedang Nirvana mewakili generasi X yang selalu diselubungi kemarahan, juga keapatisan. Juga mungkin rasa muak terhadap generasi hair metal. Hal yang sama terjadi pada sirkulasi flower generation dan punk.

Kalau tulisan ini sangat sangat pretensius, itu benar adanya. Saya pikir setiap lini dari tulisan ini cenderung sangat subyektif dan (mungkin) berat sebelah. Saya cenderung memihakAppetite. Jelas, karena hidup saya berubah karena album itu, bukan oleh Nevermind. Sama dengan para pemuja grunge yang berkoar serta menuliskan grunge berhasil membasmi hair metal.
Hair metal mati? Aha, bahkan sekarang ada Rocklahoma Festival, Ratt mengeluarkan albumInfestation, Guns menetaskan Chinese Democracy yang sudah terlalu lama diperam, bahkan Motley Crue masih mengadakan konser keliling dunia (dan konser mereka di Jakarta gagal, it just broke my heart!). Sedang grunge? Bolehlah ia dianggap mati suri setelah kematian satu orang sahaja: Kurt Donald Cobain. Tapi untuk perihal kebangkitan skena grunge, saya kurang begitu tahu. Kalau ada yang tahu mengenai kebangkitan gerakan grunge, bolehlah saya diberitahu.


Menurut saya, hingga kini nyaris belum ada yang bisa membangkitkan sub kultur asal Seattle itu lagi. Pearl Jam? Ah, saya lebih memilih berharap pada Navicula saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar